miyazaki, trentino & toyama

riset, kya-kya n muja No Comments »

sesungguhnya untuk miyazaki, aku memang berharap. selain ingin unjuk karya dan karsa, juga sebenarnyalah ingin masuk dalam 'mokuzai society' sesegera mungkin. maka, ketika ada tawaran untuk gakkai di miyazaki, dengan malu-malu namun ngarep, tanganku menjulang sambil berkata "bolehkah saya?".

sisa-sia bahan masakan tahun lalu pun aku garap lagi didapur sains. satu masakan siap saji ditolak, waduh.... hening, lama, ya sudah la tahzan, la ubali, la popo (jangan bersedih, gak patheken dan poya hoho). datang tawaran untuk merubah masakan menjadi 2 alternatif. satu laternatif kuselesaikan dengan termangu. walaupun beku dan kelu namun jadi maju. satu alternatif lagi kuselesaikan sehabis 'garis mati' kulalui, sekedar menunjukkan keseriusanku memasak.

miyazaki, 16-19 Maret 2010. pyuhhhhh.....

***

untuk trentino sudah kusiapkan bahan dan menunya sebelum kesini. jadi begitu ada celah langsung aku 'faith accomply', setelah coto menjadi ok desu! maka kusiapkan masakan sebenarnya, melelahkan batin, menegangkan pikir, dan merusak liburan weekend. fyuuhhh, akhirnya melewati garis mati.

sekarang berkecamuk, bagaimana menawarkan sajian masakanku ini, bila tak ada 'sains'-nya? salah satu jalan memang harus mengejar menyiapkan menu hitung-hitungan sebelum hari H.

tiket pesawat, hotel, dari mana kemana dan lain sebagainya.... membuat geli yang mengkhawatirkan. seperti orang mau melahirkan (emangnya pernah melahirkan?)

***

"siapa yang mau ikut?", sergah sang bos. dengan mantap aku menjawab "tidak!". sang bos mengiyakan karena garis mati yang harus dilewati 10 hari kedepan, artinya memang tidak mungkin dan gak usah ikutlah...

namun, sang wakil bos bilang "ikutlah", aku menatap gamang. terus terang bahan baku masakanku sudah habis digerus event sajian-sajian ilmiah nasional maupun internasional. "ikut saja", sergahnya mantap, seolah menjawab kebimbanganku. "ok, nanti kita diskusi sehabis ini ya", tukasku menjawab tantangan.

maka mulailah obrolan dengan obrolan. satu, dua, tiga kali di waktu pagi. satu dua di siang hari. dan hampir melewati garis mati, satu, tiga, tujuh di waktu malam dan dini hari. lelah syahwat ini.

tabuh menunjukkan 15.30, artinya kurang ichi ji san ju pun lagi harus mengirim 'sajen-sajen' ini ke tlatah persembahan. fyuohhh-fyuuuohhh.... toyama menunggu september 2010.

***

japanese wood research society (jwrs), world conference on timber engineering (wcte), & architecture institute of japan (aij). miyazaki japan, trentino italy, & toyama japan. march, june, & september 2010.

oh, satu lagi.. bukan dua lagi..

jte-japan timber engineering on december and iwrs-indonesian wood research society on november 2010.

***

waduffff...

tas-tas itu

riset, kya-kya n muja 99 Comments »

nb. pls bawa jaket lumayan tebal… krn musim gugur ini temperatur malam kadang drop ke belasan derajat… walo blm smp 5 derajat sih…

kalo perlu bawa semacam jaket parasut yg tebal n ada tutup kepala… sangat berguna u cuaca hujan - dingin n bersepeda ria…

… Saranku mengko gak perlu gowo pakaian akeh2, mending gowo bahan makanan pak …

tulisan diatas, itulah bisikan-bisikan (melaui email) yang terekam dengan kuat di ingatan, pakaian hangat dan makanan. ditambah lagi pengalaman lalu saat berkunjung ke sini. dulu sibuk menyiapkan pakaian, yang akhirnya sampai sini menyesal membawa pakaian banyak-banyak. dulu pikiran saya bisa menghemat tenaga dan waktu mencuci, enggak tahunya pakai washing machine yang sudah disediakan plus sterikanya. waktunya juga lumayan luang setelah pukul 19.00 jst (japan standar time), acara sudah ‘reda’.

dulu bahkan ada yang harus merelakan sebagian pakaiannya ditinggal di bandara, karena over weight, atau kalau sempat didepositkan ke rumah keluarganya atau keluarganya diundang ke bandara untuk menyimpannya.

sampai akhirnya ada seorang teman, sampai waktu pertengahan program masih belum bisa adaptasi dengan makanan dan iklim disini. kalau melihat dan membaui makanan rasanya mual saja, ingin muntah dan lemas. teman saya itu, untung membawa nasi instant dari Indonesia. namun seberapa dia beisa bertahan dengan nasi itu? karena jadwalnya padat bukan main, jangankan mandi dan makan, untuk bernafas saja kadang dimenitin kok… saya melihat teman saya ini tersiksa bukan main. yang harusnya bisa bersenang-senang berguru dan belajar disini, malah sibuk memikirkan kesehatannya doang.

kali ini harus lebih persiapannya. tekadku.

kusiapkan travel bag, 1 small size dan 1 big size plus backpack untuk komputer dan peropheral-nya.

kuisi tas besar dengan pakaian untuk 3 tahun, maklum s3 sekolah 2 tahun (s2 sekolah 2 tahun, tapi s1 sekolah 4 tahun). isi full tank, dan kutimbang, wowww… 35 kg. limit lugage adalah 20 kg, demikian yang tertera di tiket. ku kurangi, tambah kurang, rekayasa sisipan beban dan kutmbang lagi masih 28 kg. bongkar dan pasang lagi, 25 kg. lagi di bongkar dan sisipkan lagi 23. teruys bongkar pasang sampai 19.5 kg. pfuff…..

satu tas selesai. satu tas traveler lagi, kecil ukurannya pas untuk kabin. tas kuisi ransum makanan buat beberapa bulan kedepan. terbayang susah cari makanan. bukan tidak ada, tapi cari yang halal mungkin rada sulit. macam-macam lauk pauk ku bekalkan. setelah penuh, kutimbang, wuihhh… 28 kg. kurang sana kurang sini, 24 kg. kurang lagi, tapi apa ya yang bisa di tinggal. makanan je…

akhirnya pas 18 kg…

tas back selain komputer juga berisi beberapa cd dan buku. maklum, mahasiswa. mau studi kok gak bawa buku…

setelah siap hari H, maka berangkatlah diiringi sanak keluarga ke bandara dan go(o)d b(less) y(ou).

di bandara adisucipto, ke-3 tas mulus melewati gate sensor dan ditimbang, satu tas masuk bagasi dan dua tas, satu travel bag kecil kubawa untuk kabin dan satu tas ransel aku cangklong di punggung. masuk gate sensor lagi… ok, lulus. puffffff….

masuk pesawat, tas kukabinkan dua-duanya. selesai untuk sementara, tapi terbayang masih melewati proses ritual ambil bagasi dan masuk gate lagi.

sampai di bandara suta, bagasi kuambil, kutarik keluar dan singgah dulu di lounge sambil menunggu penerbangan berikutnya yang masih sekitar 5 jam lagi. 5 jam lagi heiiii…….

tas-tas itu kubawa waktu ke mushola di lantai dua. hampir aku menggelar sajadah di lounge, karena rasanya sudah menyerah ‘menyeret dua tas berat dan memikul satu tas semi berat. namun, demi Dia kubawa beban mati itu menggunakan lift.

*******

it’s show time. security check for baggage. kata petugas tas besar status ok. tapi tas kecil status belum ok, karena untuk kabin maksimal 7 kg. waduhhhh….. katanya lagi disuruh mengurangi beban, dan memanggil keluarga ke bandara. wadufffff lagi….

“…tenang-tenang seperti karang…”, bisikku dalam hati seperti lagunya Iwan Fals. check in, kutimbang tas besar dan masih 19.5 kg dan kutambah beberapa barang menjadi 22 kg. sok tak berdosa kuucap, wahhh.. kelebihan ya mas, saya kurangi dulu. petugasnya menyambut dengan ramah, enggak papa (berarti mama) kita punya toleransi sampai 25 kg kok… heiii, 25 kg? kalau begitu boleh saya tambah lagi? silakan sambutnya. thank’s god. segera kujejalkan beberapa barang dalam tas kecil ke tas besar. satu, dua, tiga,….. empat belas, enambelas potong dan…. sudah. ditimbang lagi, wow 28 kg.

masih boleh ditambah lagi mas? berapa tadi? 28 kg, waaah sudah cukup harusnya cuma 25 kg. tambah 2 kg lagi ya? tidak. ok, satu kilo lagi. tidak. ya sudah. ok mas, sidah ya bagasinya? ok, aku menggangguk ragu. wah tadi kalau tahu begitu ku pol-kan saja sampai 30 kg, kan lumayan mengurangi ebban mati di pundak.

tas kecil berkurang menjadi 12 kg dari batas 7 kg yang diperbolehkan. gimana ya caranya, apalagi katanya maskapai ini sangat ketat. ya sudahlah, kalau memang mau didenda ya denda aja. kucoba menghitung denda. wah kok enggak cucuk dengan nilai barangnya ya… atau kutinggalkan saja, ah sayang…

yang akan terjadi terjadilah.

*******

menunggu sebentar. berbincang dengan orang yang mau ke dubai. ceritanya dia dulu juga pernah dalam keadaan seperti saya. malah dia punya beban sampai 50 kg. tapi tetap dimasukkan ke bagasi tapi terpisah, dan dijamin bahwa barangnya tiba bersamaan dengan sang penumpang. ah…. cerita indah. tapi bisakah itu berulang kembali padaku… pada tas-tasku itu….

tibalah waktunya boarding, wah kayak mau seleksi tentara aja. ketat banget.

tas punggung masuk, status ok. giliran tas pinggang, status ok. tas travel, status….. tidak ok. pisau cukurku enggak boleh masuk ke kabin dan harus ditinggal. terbayang mukaku tumbuh jambang dan jenggot… waduhhhh.

beberapa alat-alat mandi juga diketemukan, waduhhhh. gak mandi nih beberapa waktu kedepan. aku digelandang ke front desk. kudahului dnegan kata, selamat malam, mbak. bagaimana ya baiknya? sapaku sok ramah, padahal ya stress. bapak punya tas kecil? tas punggung seperti ini? jelasku. iya, tolong pindahkan barang-barang yang dilarang masuk ke kabin ke tas kecil itu, nanti kami masukkan ke bagasi bersama bagasi bapak yang tadi. ooo, bagasi bapak sudah 28 kg ya? iya, jawabku dan kupastikan bahwa barang-barang remeh-temehku akan baik-baik saja sampai di tujuan akhir, kansai. petugas itu menjawab iya, kami jamin.

okelah… jawabku lega. sekarang tinggal menenteng tas punggung dan travel bag tak lebih dari 7 kg. wuihhh, enak dan santainya… masuk badan pesawat dan lherrrrr, terlelap untuk sementara waktu sampai bangun karena ditawari handuk basah untuk membasuh wajah…. ahhh, tidur lagi.

*******

sampai kansai pukul 08.00 jst. turun pesawat, jalan, turun eskalator, naik trem, turun tangga dan ambil bagasi. 10 menit kudapat semua tas, segera kubenahi semua tas menjadi setting semula. dari kansai ke uji campus naik taksi yang sudah dipesankan teman. masalahnya si taksi punya peraturan, hanya menerima 2 tas per penumpang. melebihi itu harus bayar. saya zip dari empat tas menjadi 3 tas. 1 tas yang berat sekali, 1 tas yang semi berat dan tas punggung yang rada ringan. mausk taksi, bercengkerama dengan sesama penumpang, melupakan sejenak tragedi tas-tas itu.

*******

perjalanan tas dari satu bandara ke bandara lain. perjalanan tas melewati dari satu gate ke gate lain. tas-tas itu….

kurikulum kayu

alastu birobikum, riset, kya-kya n muja 5 Comments »

sebelum berangkat studi ke jepang (lagi), saya dihadapkan dengan 'praktikum-praktikum' yang padat, diuji publik ilmiah, dan dengan 'pemaksanaan'.

saya harus berkelana di tiga kota dalam waktu sebulan dengan empat kali sesi. yang kebetulan kota-kota tersebut berawalan 'B' semua, Bandung, Bali dan Bogor. celakanya di pulau Bali, nama tempatnya juga Bedugul. kurikulum kayu yang saya ambil mengharuskan saya menguji rangkaian sistem konstruksi di Puslitbangtekkim, Cileunyi Bandung. dan harus dua kali dalam seminggu saya mengecek dan mendampingi speciment benda uji, huhhhhhh..... Hasilnya dipresentasikan nasional di Bedugul, Bali dan akhirnya di simposium-internasionalkan di Bogor. untung tidak diakhiri dengan B*j*gurrrrrr.....

belum genap satu minggu tetirah di rumah bersama keluarga-sehabis dihajar riset, 4 hari berikutnya saya harus segera berangkat ke kyoto. celakanya cengkareng-kansai, tidak ditempuh langsung tanpa 'mampir ngombe', melainkan harus transit dulu di changi. dari adisutjipto pukul 12.45 ke soekarno-hatta, dilanjutkan malam hari pukul 19.00 ke changi. dan wuaduh, capeknya ampyuuun... dari changi ke kansai pk 01.10. tapi alhamdulillah sebelum pesawat take off, saya sudah take off duluan alias mi'roj mendahului kecepatan airbus 300 yang 940 km/jam itu. bangun-bangun udah diatas taipei pukul 05.00. sholat shubuh dan tidur lagi.... (kayak lagunya mbah surip).

sampai di kansai 08.10, cek sana cek sini, sidik sana sidik sini, akhirnya keluar dengan membawa 3 tas, 1 travel bag besar, 1 travel bag kecil dan tas ransel (besok saya ceritakan suka dukanya membawa tas-tas ini melewati variasi gate di bandara-bandara adisucipto, suta, changi dan kansai). keluar cari taksi yang udah dibookingkan senpai. nggak sengaja ketemu orang indonesia yang akan seminar di kyoto-u juga, selama 3 hari. wualah, mbok dari tadi ketemu orang ini, biar bisa minta tolong ini itu ya. tapi tuhan hendak menguji sampai dimana tingkat kekuatan saya mengemban tas-tas yang lumayan berat itu.

berjalanlah kami bertiga dengan MK taksi kansai, memakai APV. bercengkeramalah kami bertiga, melepas penat di badan terutama di hati. haha hihi sampai 3 jam melewati osaka, akhirnya sampailah di Uji Campus. langsung ke kampus, lho opo ora elok? kok gak ke apato dulu? istirahat atao apa kek, nyruput kopi dulu (tanpa rokok). langsung ke laboratarium, dan hebatnya supir taksi gak bisa bahasa inggris apalagi indonesia, bahkan bahasa jawa-pun tidak to. kebangetan ya? tapi untunglah saya bawa kartu nama sensei, saya tunjukkan dan domo arigato gozaimashita...

sampailah di lab yang sepi nan megah. tas saya taruh diluar. kok gak ada tanda-tanda kehidupan, adanya jasad renik kayu-kayu bekas diuji dan akan ditest dalam rangkaian konstruksi. wooh, lab kayu tenan. assalamu'alaikum jelas gak ada yang jawab, akhirnya masuk saya dan ketemu wanita dan pria. say atanya dimana bisa menemui sensei dengan bahasa nihonngo tingkat dasar 2. syukurlah dia mengerti dan mengantar saya menemui sensei. ketemu sensei, say hello, dan..... lho kok ora di 'wedangi' dulu. langsung diajak keliling kampus... m*darr!!

ditunjukkanlah tempat saya besok belajar, sebuah meja dan kursi plus rak-rak buku-buku. dikenalkanlah saya pada semua anggota lab dan diajak keluar ditunjukkan tempat makan, ambil uang di atm. good-lah, tapi waktunya itu lho. apa harus sekarang, khan masih ada waktu esok pagi. tapi itu rupanya budaya juga disini. wuaduh, saya lupa, tas masih saya taruh di luar, saya kira aman. tapi sensei bilang sangat beresiko, akhirnya tas yang ada barang sangat berharga saja yang saya bawa. barang berharga lain saya tinggal... lho kok? iya, semua barang berharga, walau hanya selembar serbet, gak ada gantinya soalnya.

akhirnya saya bisa istirahat sejenak, dan akan diantar ke apato pukul 13.30. sambil menunggu waktu menyapa rekan-rekan satu lab terutama yang dari indonesia, dan diantarlah saya pada jam sekian yang ditentukan oleh sensei ke apato, registrasi dan melengkapi syarat-syarat yang berjubel nan pakai bahasa sabungceker  ayam. susah ceker ayam, disabung lagi, bubrah tenan... ketemu rekan indonesia lagi, dan bersama sensei diantar ke kamar, ngecek ini ngecek itu. sensei tahu diri dan segera pamit, segera saya merebahkan badan setelah bercengkerama sejenak dengan teman indonesia satu kota dengan saya.

bismikallohumma ahya wa bismika amut....

sebelum tidur pukul 21.00 sensei telepon, bila besok akan memperkenalkan kepada seluruh anggota lab secara resmi dalam forum seminar rutin mingguan. ok, saya sahut begitu. tapi saya diminta juga mempersiapkan bahan presentasi, riset apa yang telah, sedang dan akan dilakukan. gubrakkk... waduh, mana sempat mempersiapkan... khan masih ada waktu lain.... budaya-budaya, ohhh.

besok pukul 09.30 ditunggu untuk presentasi bahan riset. oce, my gambling (kata mbah surip). raga ini tidaklah kuat berjaga, maka ambruklah wadag ini berikut isi-isinya sak kulit-kulitnya. alhamdulillah, jam 03.00 bangun, tapi tidur lagi... (mode on mbah surip). shubuh, langsung tancap gas bikin presentasi. jam 08.00 kelar, masak nasi+air, mandi dan menuju stasiun (balapan)...

sampailah pada saat presentasi, lancar-lancar aja dan diakhiri tepuk tangan.

disini, laboratoium ini sering menjadi jujugan peneliti, dosen dan mahasiswa arsitektur yang minat arsitektur kayu. di lab ini dari mulai menguji bangunan 8 x b m full scale sampai mengetest elemen struktur berupa mock-up sambungan, misal sambungan soko guru ke umpak dengan purus.

alat lengkap, jaringan kuat dan sinyal kerjasama luas. hanya tinggal mahasiswa dan peneliti bisa gak memanfaatkan kehebatan ini. saya awali memanfaatkan ini dengan rasa bersyukur....

salam kayu.

arsitektur kayu

bangunan tradisi, riset, kya-kya n muja No Comments »

setelah sekian lama saya browsing, searching, googling sampai pusing dan pening bin ngglinding, mencari seolah arsitektur kayu, saya hanya menemukan di finlandia, kunjungi http://arkkitehtuuri.tkk.fi/engl/woodprog/.

yang lain sekedar proyek dan sayembara atau sekedar ulasan bagaimana kayu mendesain arsitektur. atau masuk pada fakultas atau jurusan non arsitektur.

sekolah arsitektur jepang, saya coba jelajahi, tentu saya semampu saya. tak saya temukan tanda-tanda kehidupan bahkan sekedar jasad renik. sekolah arsitektur di jepang dipilah, menjadi berkutat pada desain (termasuk kajian urban architecture, science architecture dan digital arch) dan kajian struktural. kajian struktural hanya mengurusi desain berbasis baja dan beton semata. penggunaan kayu untuk berarsitektur tiada harapan. terus dimanakah mereka belajar kayu untuk berarsitektur? kalau melihat jelajah sejarah arsitektur kayu amat hebat, sehebat china. tapi kok gak ada sekolahnya?

ternyata mereka menginsert-kan kajian arsitektur dan kayu, lebih kepada muara dari hulu kayu ke hilir arsitektur. arsitektur hanya akibat bukan sebab. yang menjadi biang adalah kayu. so kayu dikaji dari Wood Anatomy, Wood Properties, Wood Quality Enhancement, Wood Constructions, Wood Composites, Wood Entomology and Preservation, Wood Chemistry, Non Wood Forest Products, Pulp and Papers, Wood Biomass Energy, Wood Biotechnology, Forestry Sciences. arsitektur kayu dikaji melalui wood construction, tidak sekedar desain.

jadi arsitektur kayu bukan menjadi ranah kajian engineering, tetapi ranah kajian agriculture atau forestry. di jepang seperti itu, dan di canada (univercity of brunswick) juga begitu.

ini menyulitkan saya untuk beradaptasi dengan penggiat-penggiat kayu di indonesia (lipi, fakultas kehutanan, dll), tetapi disini saya dapat bercengkerama dengan tukang-tukang kayu dari 'hutan' fakultas yang bukan engineering.

sarung is cloth of my country

riset, kya-kya n muja 79 Comments »

".... jangan mengambil sesuatu kecuali gambar dan jangan meninggalkan apa-apa kecuali jejak ..."

semboyan itu yang selalu saya kenakan ketika melakukan bepergian ke mana-mana (tanpa digendong). semboyan itu saya dapatkan saat sma sewaktu mengikuti sesi mountaineering.

tapi berat juga beristiqomah berpegang erat pada semboyan itu. "pergi kok gak bawa oleh-oleh", begitu kata rekan dan keluarga mengomentari kepulangan dari bepergian. "selamat aja sudah cukup" tukasku meredakan tradisi mengoleh-olehi. bahkan kalau ibu lagi arisan di rumah tetangga sebelah, oleh-oleh juga dinanti, meskipun hanya segumpal snack.

sampai sudah berkeluarga, saat mudik juga tak terlalu heroik kami terutama saya menyiapkan oleh-oleh untuk mertua atau orang tua. syukurlah mertuaku sudah sangat kenyang dunia, sehingga suatu saat pas lebaran saya haturkan seperangkat alat sholat kepada beliau dan diterimanya, tapi juga saya diberikan seperangkat alat sholat lain yang tak kalah trendi. rupanya bingkisan ini hanya pindah tempat saja. dari kakak-kakak istriku atau saudara-saudara mertua ke kakak-kakak istriku yang lain atau ke saudara-saudara mertuaku yang berbeda.hanya 'mubeng minger, saudrekan. 'yang penting niat shodakohnya udah kesampaian" begitu hibur mertuaku.

ketika saya ke badak bontang kaltim tahun 1999, juga bingung mau beli apa untuk oleh-oleh. ingin kerajinan, nanti bermuara menjadi sampah. mau baju, di jogja juga banyak. makanan, ringkih dan banyak memakan tempat. tetapi tak apalah sebagai tanda kepergianku di tanah minyak ini. kupilih krupuk amplang. 4 kardus dipacking, satu untuk orang rumah, dua untuk tetangga-tetangga, tiga untuk orang kampus dan empat untuk jamaah masjid. inilah alasan enggan untuk membawa oleh-oleh atau menerima oleh-oleh, rebyek en revot. makanya saudara yang pelaut selalu mengirim "upeti" langsung kepadaku via pos dari negara singgahannya. baju koko dari shicuan china. lukisan kaca masjidil haram dari kuala lumpur malaysia. bahan sari dari india dan lampit dari kaltim. kalau disuruh mengambil sendiri, mungkin sampai menjadi barang antik belum juga kuambil. rebyek en revot.

saat ke bali tahun 2003. teman-teman pada beli kerajinan, kaos dan lain-lain yang layak untuk cinderamata. ah, ingin juga menjadi manusia normal, kalau pergi ada oleh-oleh. kucoba mencari oleh-oleh itu. di jalan kuta mencari kain flores, terlihat indah sebagai gordyn mini. kebayang dipsang dimana atau mau diberikan siapa ya...? gak jadi. mau beli kaos untuk anak-anak atau daster untuk ibunya, ah gak pasti ukurannya dan di jogja juga banyak. gak jadi lagi. apa lagi ya? iket kepala khas bali, nanti cuma sebagai pajangan, gak mungkin aku pakai kemana-mana di jogja.
atau beli sarung aja ya, sarung bali. dan.... dapet biru tua, hitam dengan berbagai variasinya plus motif sulur-sulur dengan berbagai ukuran (untuk anak, perempuan dan pria).

eh, di badak bontang dulu 1999, juga sempet beli sarung juga. sarung tenun beberapa biji.

di manggarai 2009, menyempatkan cari sarung manggarai yang berbeda motif dengan sarung todo ruteng flores. sarung ini tebal, besar dan hangat.

di bumiayu 2000, dapet hibah sarung sutera. halus, dingin dan makplek di kaki beradaptasi dengan sangat baik dengan badan bawah.

di bengkulu 2004, 2006, 2008, hunting sarung.

di osaka 2005, nguber sarung tapi adanya tak berjahit. di tokyo 2005, juga begitu adanya sarung warna hitam sliwir-sliwir kayak rok itu. di okinawa 2005, sarungnya kayak hawaian. wah ini cocoknya dipakai wanita.

pas dibandung 2001-2003, 2007, 2008, 2009 terbayang sarung majalaya yang ringan, dan kaya motif.

di sade 2009, produsen sarung tenun, dapat beberapa motif dari warna mejikuhibiniyu gasak semua. mau ramadhan, banyak tamu di rumah, siapa tahu bisa niru orang tua, sekedar ngasih sarung ke orang supaya lebih rajin beribadah. pahalanya nyiprat-nyiprat dikit deh lama-lama kuyup pahala.

kemana lagi ya, hayoo (tak gendong). oh, ya tahun ini semoga bisa ke sumba dan hemmm.... bali lagi. ternyata bukan hanya dangdut (p project - dangdut is music of my country) dan bahasa Indonesia (soempah pemoeda) yang menyatukan republik ini, melainkan juga sarung.

hampir semua daerah punya tradisi menggunakan sarung (kecuali papua mungkin, eh bukankah koteka itu juga sarung? ingat sarung pistol atau sarung keris?)

lihat juga di


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in