uang 'susuk' dan permen

rahmatan lil kampung No Comments »

sampai saat ini saya tidak mengunyah permen seperti kebiasaan saya di jogja. bukan, apa-apa, kalau dijogja hampir tiap belanja dari kios kecil sampai supermart atau hypermart selalu menyediakan permen. maksud saya permen bukan untuk dijual, melainkan sebagai uang kembalian atau 'susuk'.

disini, saya nganggur tidak bisa melakukan hobi 'kepaksa' itu. tiap hari ada saja permen bermcam jenis tergeletak di meja dapur, sebagai ganti uang kembalian tadi. kalau tida,k dikunyah kok eman-eman, kalau dimakan kok bikin gak baik bagi kesehatan mulut dan gigi. tapi ya ada barangnya, ya konsumsi aja, aja saya berikan kepada anak-anak tetangga kalau pas main kerumah. atau untuk hadiah bagi anak-anak tetangga juga yang menunjukkan prestasi sederhana. misalnya, tidak menangis, bisa makan sendiri dan prestasi ecek-ecek lain. bagi saya itu memberi motivasi.

lho, kok tidak diberikan kepada anak sendiri? maaf, untuk anak-anak, kita sepakat. saya, isteri dan anak-anak sarujuk, bagi anak-anak untuk tidak memakan permen kecuali ada peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya hajatan, hari 'istimewa atau hari-hari insedentil lainnya. dan pasti setelah sayadan isteri atau anak-anak makan, kita juga sepakat segera melakukan pawai untuk sikat gigi.

*******

di sini kembalian sekecil apapun dapat dilayani. baik kios kecil, toko besar, maupun supa hypermart. mereka selalu punya cadangan uang receh. pecahan terkecil adalah 1 yen, 5 yen, 10 yen dan 50 yen. harga-harga yang tertera juga harga yang kompatibel dengan uang receh. tidak ada harga yang tidak bisa di-cover oleh uang receh, seandainya unag kita lebih.

di mesin tiket-pun demikian. mesin dan harga atau biaya tiket juga saling kompatibel. dan selalu ada kembaliannya bila kita memerlukannya.

disini saya harus berhenti mengunyah permen, kecuali jika membelinya. jual beli tanpa permen. uang susuk tanpa permen.

bukan masalah permen atau uang recehannya yang utama, tetapi perilaku para saudagar kecil atau besar itu untuk bertanggungjawab dan menghargai sistem yang berjalan (untuk konstelasi jual beli). penghargaan penjual akan pembeli akan meningkatkan kredibilitas penjual dan barang jualannya lambat atau cepat. percayalah....

menjepangkan kejawaan melalui makan dan mandi

rahmatan lil kampung 157 Comments »

saya masih beristiqomah beberapa waktu ini dengan ritme mandi 2 kali sehari dalam keadaan musim autumn ini. seger dan tetap menjaga kejawaan saya. shubuh menyapa pukul 05.15 waktu lokal. sholat, masak, cek jadwal dan mandi.

pulang dari lab pukul 19.00 atau 21.00, kadang lebih. sapa keluarga di kampung via media, masuk apato, mandi sibin dan men-set untuk mi'roj.

begitu rutinitas saya di awal-awal waktu. lama-kelamaan ada yang gak kompatibel terasa di wadag ini. terasa kering, lelah dan ada yang gak beres pada kenyamanan bergerak.

sampai akhirnya, saya teringat ritual orang jepang sebelum tidur di malam hari. mandi, ya mandi dan berendam. wah, nekat. dengan suhu 14-23 derajat celcius kok malah bersendau gurau dengan air.

tapi, saya lakukan juga. kok rasanya badan jadi enak. tidur nyenyak, bangun segar dan badan terasa ringan.

dan ritual yang lain adalah kalau pagi, orang jepang kagak mandi. hanya cuci muka, gosok gigi dan chaooo, berangkat kerja setelah sarapan atau sarapan di kampus atau di kantor atau di jalan.

saya juga ikutan gak mandi, khasiatnya kulit gak terasa kering dan kasar. tapi pertama agak risih juga, tapi negara mawa tata desa mawa cara. teringat lagu anak-anak," tidak mandi sudah biasa, kalau mandi tidak biasa...."

*******

saya juga berkeras makan ala jawa, pakai piring plus sendok dengan nasi dan lauk pauk. satu wadah dengan beragam jenis lauk. beberapa jam kemudian lapar lagi, dingin menyedot nutrisi dan kerja 'rodi' menggerus enerji.

sampai akhirnya saya makan ala orang sini, satu jenis makanan satu wadah sendiri. akhirnya banyak sekali yang dimakan, apalagi pakai sumpit. nasi sendiri, lauk sendiri, sambel sendiri, sayur sendiri dan sup sendiri. lho, kecil tapi banyak khan. so, kenyang, awet, hangat dan lama.....

iklim membuat gaya mandi dan makan saya berubah...

asu jepang

rahmatan lil kampung No Comments »

makhluk berkaki empat dengan rambut 'riwug-riwug' itu 'menyalami saya. menyalami dengan salak, atau menyalaki jadinya.

badannya kecil tapi ceper dengan warna bulu grey kecoklat-coklatan. dilehernya ada peneng dan tali yang dikendalikan tuannya. sang tuan seorang nenek-nenek tua.

salamnya mengagetkan saya, ketika saya bersepeda mau menyebrang. sang nenek rupanya juga berhenti di ujung zebracross. serta merta sang empunya anjing menimpali, sumimasen-dan minta pengampunan saya untuk kegalakkan piarannya.

saya hanya tersenyum, membayangkan kok mau repot-repotnya sudah 'sepuh' memelihara anjing. ternyata disini memelihara anjing bukan sekedar hobi, tetapi untuk melatih perhatian, tanggungjawab dan kepedulian. bahkan anjing mereka diasuransikan, mahal lagi. setiap pagi sang empunya mengajak ke taman, menggembalakan piaraannya dan antar sang empu saling bercengkerama membicarakan anjing-anjingnya.

lampu tanda penyeberangan berganti hijau, tanda saya untuk segera bergegas. maklum pagi ini dingin menyayat. ketika saya toleh sang nenek dan anjingnya belum bergegas, sang nenek sibuk mengambil sesuatu. ooo, sang anjing lagi memenuhi pangggilan alam di lampu bang-jo. dengan sigap sang nenek mengambil tisu dan di-cover-kan ke hasil panggilan alam tadi, kemudian dimasukkan ke tas plastik.

rasa sayang dan tanggung jawab mendorong nenek sang empu anjing melakukan itu. yang pasti hasil cover-annya tadi bukan untuk pupuk kandang, tapi sekedar menunjukkan rasa tanggung, jawab, perhatian dan kepedulian bagi anjing dan pengguna jalan lainnya.

saya jadi ingat cerita senior saya di bilangan perumahan ngoriindah, minomartani sana. ketika itu senior saya lagi menyirami kebun di seberangjalan, serta merta datang anjing gede bahkan gede banget denganbadan dan bulu terwawat disanding tuannya. tiba-tiba anjing berhenti dan jongkok, memenuhi panggilan alam. tuannya menunggu sang 'kekasih' berhajat. setelah seselai, memandang senior saya. karena senior saya kelihatannya akan menegur, sang tuan anjing menghardik duluan.... sambil berlalu. tentu saja senior saya yang kebetulan perempuan bergetar, lha dihardik raja anjing... tatoan lagi.

saya tidak tahu, siapa yang anjing, siapa yang tuan dan siapa yang nenek-nenek tua. yang saya tahu a itu artinya tidak dan su itu artinya baik, jadi asu itu berkonotasi tidak baik. begitu kira-kira tausiyah pak ustad di kampung saya.

menemukan jawa di jepang

pit : sport, slow & hoyaq-hayiq, rahmatan lil kampung 1 Comment »

saya menggangguk mereka menggangguk. saya memberi salam mereka memberi salam. saya bilang permisi mereka mengiyakan. saya minta jalan mereka segera memberi jalan. saya minta maaf mereka menghamburkan keikhlasan dan bilang 'ah, gak apa-apa'.

di jawa, kalau tidak dipelosok desa, sekarang relatif susah menemukan keadaan seperti itu. di trisik, di sekitar baron-kukup-krakal, di bumiayu, di imogiri, di kaliurang, saya masih menemukan kehidupan seperti itu. hangat, guyub dan 'dunia baik-baik aja'.

sugeng enjing-ohayo gozaimasu, sugeng enjang-konichiwa, sugeng sonten-konbanwa dan sugeng ndalu-oyasuminasai. greeting pada waktu, sikap dan intonasi yang sama tetapi dengan pengucapan yang berbeda. saya menemukan kejawaan di sini.

mobil pasti berhenti ketika di ada penyeberang jalan, sang pengemudi mengangguk ditimpali ucapan 'nuwun' - domo arigato dari si penyeberang. atau mobil selalu minggir jika berpapasan dengan sepeda. atau sepeda acap menyapa pejalan kaki yang menghalangi jalannya, sambil mengucap sumimasen-permisi, dan hebatnya sang pejalan kaki menimpali dozo-silakan.

mungkin di jawa masa lalu, kejadian ini dapat kita temukan. atau harus masuk kepelosok desa nun jauh di mata yang pasti tak ada listrik disana, hingga kita bisa menikmati saling penghormatan ini.

atau jawa sudah terlalu cepat berubah? atau barangkali kyoto yang sangat lambat berjalan? entahlah, antara ja(v)anese dengan ja(p)anese hanya berbeda huruf v dan p doang. tetapi pengaruh iklim, geografi dan attitude yang menempa orang-orang disini begitu jawa.

st hall

rahmatan lil kampung 117 Comments »

bagi yang pernah ke bandung dan hobi naek angkot, pasti tahu arti "st hall". apa hubungannya dengan band "st 12"? apakah ada hubungannya dengan gelar sarjana teknik? atau terkait dengan st peterburg di rusia sana.

sekarang namanya setasiun besar bandung +803 dpl, begitu yang tertulis besar berwarna biru berlatar putih di depan bangunan peninggalan belanda itu. ya, st hall kepanjangan dari stasiun hall bandung.

dulu medio 2001-2003 dua minggu sekali saya (wajib) menyambangi st hall ini. maklum pjka (pulang jumat kembali ahad) dari jihad intelektual semasa masih sekolah di itb. sehingga hapal benar denah stasiun sampai radius beberapa meter keluar. mau cari toilet, mushola bahkan menu makan (pagi, siang dan malam yang harga mhs). st hall ini istimewa karena mempunyai dua wajah. wajah 'abangan' di sisi selatan. disana ada warung, ojek, angkot dan terminal kecil serta warung-warung klas 'abangan'. di sisi utara termaktub wajab 'priyayi', yang menyediakan area untuk taksi, bis travel, rm cepat saji dan parkir kendaraan mobil pengguna dan petinggi ka.

kemaren sabtu dan minggu saya nostalgia lagi. masih seperti yang dulu, masih tetap relatif dingin hawanya. tetapi ada yang berubah penampilan ruang-ruang didalam st hall ini. ada proyek renovasi. tetapi yang masih "mengganjal" di perut adalah kebutuhan toilet. dulu ada dua buah, di utara dan di selatan peron. dulu juga kesulitan ketika ada tuntutan 'berhajat' di luar peron. dan kelihatannya calon penumpang dan pengantar/penjemput dilarang kebelet sebelum memasuki peron (bayar karcis peron) selatan maupun utara. sekarang lebih parah lagi, stasiun besar ini hanya memiliki satu area toilet di sebelah utara, dua kabin untuk wanita dan satu kabin untuk pria plus 3 urinoir.

ketika penumpang di sisi peron selatan perlu buang air, harus menyeberang 9 lintasan rel yang tidak begitu aksesibel (karena banyak halangan ketinggian dan lantai yang pecah).penuh perjuangan.

yang menuntut perjuangan lainnya adalah ketika harus menyeberang sewaktu turun dari kereta. beberapa sisi rel ditinggikan untuk mempermudah akses dari dan ke kereta. jangkauan kereta biasanya mempunyai ketinggian 60-70 cm, yang biasanya dibantu dengan tangga bergerak (ini juga tidak selalu pas di pintu dan membutuhkan tenaga 'pengepasan' tangga ke pintu ka). berdasar hal ini maka beberapa sisi ditinggikan, yang membuat akses menyeberang dari sisi satu ke yang lainnya terhambat. dan rel kelihatan tinggi sekali sehingga beresiko ketika penumpang anak-anak terpeleset jatuh. dan kelihatannya penumpang difabel tidak dianjurkan naek kereta dari stasiun ini.

tapi yang paling mengganjal adalah renovasi perkerasan. saya hitung ada belasan motif lantai atau keramik yang dipakai menutup permukaan lantai stasiun, dan celakanya ragam motif itu 'by accident' pemasangannya. tambal sulam kesannya. ada yang homogenoes, keramik, ubin dan pelur biasa.

sebagai stasiun besar, sayang rasanya 'kebesarannya tidak diimbangi penataan yang baik, paling tidak rancangan perkerasan setasiun.

peci sakti

rahmatan lil kampung 1,024 Comments »

saya heran setengah jengah bila berangkat ke masjid menggunakan peci. bila saya tak memasang penutup kepala khas indonesia ini di kepala rasanya aman dan tenteram. orang tak ada yang menggubris atau menyilakan saya memimpin ritual sembahyang.

bila topi agama ini saya kenakan, wuih banyak orang yang "manggake" ke mihrab. pernah suatu ketika saya bawa peci ini tetapi tidak saya pakai di kepala. ketika sholat magrib peci itu sengaja saya letakkan didepan saya. dan... aman. tapi saat sholat isya saya kenakan, kok aneh orang-orang sepertinya takjub dan tanpa dikomando serempak menggamit saya untuk memimpin koor mi'rajul mukminin.

apalagi bila peci saya berwarna putih, kayak orang arab. semakin menghebat aja persepsi jamaah. sungguh hebat peci ini, pikir saya. kok bisa membuat si pemakai tampak hebat. hanya tampaknya.

tapi saya pikir peci saya bukan topeng dalam film "the mask" yang bisa mengeksplorasi keinginan terdalam si pengguna. juga bukan jubahnya harry poter yang bisa membuatnya menghilang.

saya teringat dongeng nashrudin khoja, ketika menghadiri jamuan makan malam istana baginda harun al rasyid. si abunawas ini tak boleh masuk lantaran tak memakai dress code yang disyaratkan. akhirnya si abu membawa pakaian yang wajib dikenakan dan diserahkan kepala penjaga. sang "pakaian" di minta untuk makan malam dan berjabat tangan dengan sang raja.

dan mengingatkan saya juga ketika romo mangun ditolak memasuki tempat seminar, gara-gara tidak mengenakan dasi. beliau meminta kepada temannya untuk menyiapkan dasi dan menyerahkan kepada panitya. ketika gilirannya beliau untuk memberikan ceramah, beliau menyuruh dasinya untuk berorasi.

atau cerita om bob sadino yang membawa celana pantalon ke gedung orang-orang terhormat. bukan mengenakannya.

maka tak heran bila dijalan-jalan sekarang, banyak foto orang-orang mengenakan peci. barangkali peci mereka juga (diharapkan) sakti.

naek gadjah

rahmatan lil kampung 60 Comments »

jumat, 19 desember 2008, pukul 23.04 WIB. di ruang sidang jurusan. bertiga, lelaki semua.
mereka sedang berjibaku menyelesaikan laporan ke negara terkait dana yang sudah diterima sejak tiga tahun yang lalu. hibah A3 dikti, demikian mereka menyebutnya. dan memang waktu-waktu ini selama dua minggu mereka sangat khusyu' mempersiapkannya. akhirnya 23.28 selesai.

pulang, sepi, gelap. maklum hidup didesa, penerangan sangat hemat. sampai rumah, ucapkan salam pada sang malam. lhess..zzzzzz.

subuh, masih mendung. pagi, awan bergeser. sedikit bersinar walau gak begitu cerah.

"hari ini mau kemana dik", sapaku pada anak-anak. "lihat kuda", jawab pertama. "naik gajah", jawab kemudian. "renang", jawab selanjutnya.

renang?, wah mereka belum bisa mengukur "diri", wajar masih anak-anak, yang penting keinginannya tercetus. lagi flu, musim hujan dan ujian. renang dicoret.

lihat kuda. terbayang arena pacuan kuda di bantul. kebetulan ada acara balapan kuda minggu ini. tapi jauh dan harus berangakt pagi-pagi sekali untuk dapat tempat duduk strategis.

naik gajah. di alkid. minggu sore ramai sekali, memang pasar tiban yang reguler.
tidak hanya keluarga muda, melainkan pasangan muda bahkan "muda" sekali berada disana mencecap keramaian sore.

permainan dan hiburannya pun beragam. bendi kuda mini, sekarang ditambah bendi kambing maxi. odong-odong, kuda mini tunggang dan tentu saja paling favorit naik gajah maxi dan mini. argo nama gajah yang maxi, gilang yang lebih mini. gajah ini peliharaan raja. kalau di keraton surakarta, salah satu hewan peliharaan raja adalah kerbau (kebo bule), maka di keraton yogyakarta gajah menjadi hewan jinakan raja.

sekarang hewan peliharaan raja itu direlakan untuk mainan rakyatnya. mungkin pengejawantahan tahta untuk rakyat, peliharaan raja hiburan rakyat.

dari bawah keliahatan gagah orang yang naik gajah. jalan pelan, besar dan hitam. tampak wibawa gajahnya menjalar kepada penunggangnya. rasanya enak naik gajah.

tapi coba, dengan palilah tiga ribu rupiah kita bisa merasakan sensasi "gliyak-gliyuk" naik liman. punggungnya sangat tidak ergonomis dibanding punggung unta apalagi kuda. pada punggung kuda, kaki kita bisa menjajah sebagain besar permukaannya sehingga tumit sampai pantat kita punya daya sengkeram yang kuat. tetapi di punggung gajah, kitalah yang terjajah. namanya aja "jajah".

jalan pelan dan terjajah gerakan yang terasa labil. wuahhh, sensasional. bikin anak-anak exited atau malah menangis sepanjang rute, minta "kiri-kiri" ingin turun. yang gumbira, anak-anak minta nambah lagi. yang girap-girap setelah mengendap minta naik lagi juga. jah-jah, rene jah, tak andani jah...

teringat nyanyian anak-anak : gajah, tarung. mangan kacang, tarung. cit-cit cuit.

“Trotoarus Interuptus 2”

rahmatan lil kampung 1 Comment »

Ketika penulis menggagas Trotoarus Interuptus di harian Kompas (07/08/07), tak pernah terbersit untuk membuat sekuel tulisan tersebut. Walaupun harapan selalu ada, tetapi mendambakan tulisan tersebut dapat mengubah kondisi pematang jalan kota kita terlalu mengada-ada. Tetapi paling tidak menegaskan bahwa saat ini kondisi terpenggalnya pematang kota tersebut adalah kondisi terparah dan diharapkan tidak bertambah buruk di masa datang, sehingga dapat kita susun strategi untuk memperbaikinya.
Ternyata kondisi terburuk trotoar kita belum terlewati dan barangkali kalau saat ini belum berakhir, bolehlah dianggap pada masa puber. Kalaupun kemarin untuk menikmati sebuah jalan-jalan kotapun kita tersedak atau terpenggal (interuptus), ternyata masih mending dan patut kita syukuri. Paling tidak masih bisa bergerak dan berjalan, bukan “pamer paha” (padat merayap tanpa hasil). Jikalau perjalanan kita menapaki trotoar seperti naik kuda (naik turun), menyusuri gua (kejeblos), outbond (uji nyali) atau main engklek (lompat sana-lompat sini), masih “lumayan” bisa bergerak maju dan sampai tujuan.
Seandainya kita menyusuri trotoar “terpaksa” naik turun seirama dengan letak akses rumah-rumah di tepi jalan untuk mengencangkan betis dan paha, berpikirlah positif sebagai gerakan olahraga menyehatkan dan menyenangkan biar terhindar dari stroke.
Andaikata kita terkutuk untuk melangkah ke kiri-kanan, dari trotoar ke jalan dan sebaliknya akibat trotoar menjadi tempat parkir, tetaplah bersyukur karena gerakan ini melincahkan motorik kaki dan melemaskan pinggang untuk mencegah osteoporosis.
Kalaulah kita harus ekstra hati-hati menginjak buangan limbah, becek dan bau karena buangan limbah pedagang kaki lima makanan, berkhayallah anda seorang eksekutif muda yang sedang berolahraga minat khusus, caving.
Andaikata perjalanan kita beresiko terserempet, terciprat air, terhempas angin, terjatuh bahkan tertabrak karena kendaraan, anggaplah ini suatu permainan outdoor menyenangkan yang kini sedang nge-tren di kota-kota besar.
Dan bila ingin meningkatkan EQ dan ESQ kita, maka bentangan sambikala di trotoar jalan akibat bongkaran jaringan utilitas kota adalah paparan tes yang sangat komprehensif untuk melihat seberapa level sabar dan ikhlas kita menjalani perjalanan.
Atas nama kelancaran lalu lintas, ketertiban trotoar dan keindahan kota, maka trotoar harus kecil, steril dan clean. Kelihatannya jarang kita dengar ada proyek pelebaran trotoar, yang sering bahkan selalu adalah proyek pelebaran jalan. Jalan adalah nomor satu, trotoar adalah kelas lima, karena level dua, tiga dan empat diisi jalan a, b dan c.
Trotoar hanya sebagai abdi bagi jalan. Istilahnya trotoar adalah damija atau daerah milik jalan. “Trotoar adalah hambaku”, ujar sang jalan. Pelayanan pelimpahan air (hujan) dari jalan, trotoar menyediakan drainase (baik manhole ataupun selokan). Dalam kegiatan transportasi publik, trotoar menghambakan shelter atau halte untuk transit kendaraan umum.
Sebagai contoh adalah penempatan halte bus patas Trans Jogja. Dari 34 buah halte tersebut (hampir) semuanya diletakkan di trotoar. Tidak peduli kondisi trotoar, keadaan sekitar dan perilaku orang yang lalu lalang, penempatan halte adalah mutlak, wajib dan tidak dapat diganggu gugat. Rasanya halte tersebut seperti entitas yang mandiri, sebatang kara, kuper dan “nggak gaul”. Hubungannya hanya pada bus dan calon penumpang saja, sedangkan untuk meretas komunikasi dengan sekitarnya seperti tak ada waktu dan “nggak level”.
Pengguna trotoar tidak lagi merasa tersedak perjalanannya melainkan macet, tersangkut dikerongkongan trotoar, sesak nafas kakinya dan meregang perjalanannya. Pejalan kaki hanya diberi 3 pilihan, pertama bingung, bila berjalan di belakang halte karena trotoar buntu atau terdapat selokan. Kedua putus asa karena macet dan berhenti, halte tidak dapat ditembus. Ketiga, bunuh diri sebab kaki turun ke jalan yang beresiko terserempet kendaraan. Maaf, barangkali terlalu berlebihan, tetapi bila hari terik atau hujan, menghadapi hal tersebut terasa lebih dari sekedar menyebalkan hati dan kaki. Bukan lagi sekedar trotoarus interuptus tetapi trotoarus interuptus-tus.
Mendesain halte seyogyanya tidak merancangnnya an sich, tetapi melibatkan elemen (jalan), tapak (trotoar) dan perilaku pengguna sebelum ada halte. Lebih jauh, apakah desain halte sudah mempertimbangkan kecerdasan tempat?. Prinsipnya trotoar apapun keadaannya harus nir sambikala untuk pengukur jalan. Seperti aliran darah, dia tidak boleh tersendat, menggumpal, apalagi berhenti.
Demi panji-panji penghijauan untuk menghadapi bala tentara global warming, maka taman-taman “mini” penyedak perjalanan di sematkan di trotoar. Taman (kota) bukan sekedar melulu untuk keteduhan visual, melainkan kerindangan raga dan bahkan membasuh jiwa. Bukanlah taman bila sekedar kotak bata persegi empat teronggok di trotoar dengan tanaman perdu-perduan. Alih-alih mengantisipasi pemanasan global, memberi kesejukan bagi dirinya sendiri saja sulit dan yang pasti menyita luas trotoar yang menyendat pejalan kaki.
Bila ingin melihat kemajuan suatu kota, lihatlah jalan-jalan di kota tersebut. Tetapi jika hendak menyapa peradabannya, singgahlah di trotoar kota tersebut. Bagaimanan kota menghargai dan melayani warganya akan tampak seperti apa keadaan trotoarnya. Apabila trotoar tersebut kecil, steril dan clean maka (warga) kota tersebut mengesankan keteraturan, ketertiban dan “kedinginan”. Tapi jika pematang kotanya besar, spicy dan banyak “hiasan”, maka (warga) kota tersebut mencerminkan kemerdekaan dan bertanggungjawab.
Sudah saatnya trotoar mendapatkan persamaan hak dengan jalan, bukan sekedar “damija”, sahaya bagi jalan. Trotoar harus diberi otoritas karena fungsi dan kewajibannya tak kalah mulia dengan jalan. Jangan biarkan ada KDTJ, kekerasan di trotoar jalan. Biarkan trotoar mengemban amanat “berjalan sampai jauh” tanpa menunggu diterbitkannya UUKT, undang-undang kebebasan trotoar.

“Klitikhan Jadi Grojogan”

rahmatan lil kampung No Comments »

Ibarat memindah pohon dari tanah pekarangan ke pot, kepindahan tanaman harus beserta akarnya, baik akar pokok maupun akar serabutnya. Kalau tidak, maka jangan harap tanaman itu akan survive di tempat baru. Waktunya juga harus tepat, mustahil akan hidup jika dipindah saat matahari terik. Demikian yang terjadi dengan ontran-ontran pasar klithikan kita.
Kalau ditanya jenis kegiatan apa yang mampu menghangatkan suasana jalan Mangkubumi yang “dingin”, jawabnya klithikan. Sejak selepas magrib sampai 4 jam kedepan, jalan mangkubumi seolah menjadi pasar tiban khas kota berkembang. Setelah itu senyap lagi sampai bertemu petang kembali.
Bila ditanya bagaimana meneruskan kemeriahan Malioboro ke jalan Mangkubumi, jawabnya klithikan. Walaupun jalan mangkubumi adalah terusan jalan Jenderal Ahmad Yani (Malioboro), tetapi dua penggal jalan ini (terputus oleh rel KA) bak langit dan bumi dari sisi ekonomi dan sosial.
Jika ditanya macam usaha apa yang mampu bertahan dan bahkan tidak terpengaruh oleh krismon, tunjuknya klithikan. Terbukti embrio klithikan di seputar pasar Kranggan malah berkembang pada paruh tahun 90-an sampai saat ini.
Konon kegiatan klithikan ini sudah ada sejak tempo doeloe yang bercikal di utara pasar (m)Beringharjo, kemudian berkembang ke seantero kota Yogyakarta. Dengan unit-unit kecil tapi banyak (cluster) memungkinkan perkembangan usaha ini dinamis. Dari pedagang loak tulen sampai mahasiswa yang “kreatif” tercatat sebagai penjual barang seken-an ini. Baik mahasiswa yang berjiwa interprener maupun mblenger karena masalah dana yang telat atau cekak. Ada juga mahasiswa purna tugas, yang bermaksud meringankan beban pulang kampung atau merantau dengan menjual barang-barangnya.
Dulu klithikan hanya menjual barang-barang loak remeh-temeh seperti onderdil elektronik, motor, mobil dan pakaian. Barang-barang tersebut digelar lesehan dan metode jual belinya dengan tawar-menawar. Sewaktu barang digelar dan di-kukuti akan saling bergesekan dan berbenturan sehingga menimbulkan bunyi klithik-klithik. Barangkali nama klithikan digagas dari sini.
Metode dagangnya pun berpindah-pindah menyesuaikan dengan komoditas yang dijual atau tempat yang lebih ramai untuk berdagang. Dari klithak-klithik tersebut (yang berarti juga gerakan atau usaha mencari sesuatu) pedagang bisa menetap untuk menggelar dagangannya. Lama-lama pedagang yang menetap bertambah banyak dengan variasi komoditas dagangan. Dari kecil menjadi besar, dari kriwikan menjadi grojogan.
Sewaktu menjadi unit kecil dan tersebar tidak bermasalah. Sekarang saat bertambah besar dan terakumulasi di tempat-tempat tertentu seharusnya juga tidak menjadi masalah, bila penanganannya bener lan pener. Seperti tanaman di pekarangan, yang mungkin karena aspek keindahan, kemudahan perawatan dan faktor ketertiban harus kita pindah ke pot. Atau mungkin karena pohon tersebut mengganggu sekitar, maka harus dievakuasi paksa atau sukarela.
Tetapi kalau asal jebol, pasti tanaman langsung mati. Jika pohon dipindah bersama akarnya, kemungkinan hidup lebih besar. Bila dievakuasi dengan tanah sekitar vegetasi akan lebih mudah hidup di tempat baru. Lebih baik lagi kondisi yang lama dan yang baru tidak berbeda signifikan untuk hidup berkembang.
Waktu juga memegang peranan keberlanjutan kehidupan tanaman. Memindah saat siang hari pas matahari terik, sama saja membunuh vegetasi tersebut. Menggerakan pohon ketempat lain waktu malam, hanya akan menyebabkan tanaman sekarat di pagi hari. Pagi dan petang harilah waktu yang tepat untuk itu.
Umur menjadi salah satu faktor penting lainnya. Kalau memindah tanaman sudah besar dan ngoyot (mengakar), kemungkinan hidup kecil. Tetapi kalau masih kecil, besar kemungkinan untuk hidup dan berkembang di tempat baru. Tanah yang dicangkul sekitar pohon, sebaiknya radius tertentu untuk memastikan tidak ada akar yang terpotong.
Kalau memindah klithikan yang sudah mencengkeram kuat, harus ada usaha ekstra baik pra dan pasca pemindahan. Bukan hanya pedagang klithikannya yang dipindah tetapi stake holder-nya, seperti juru parkir, kemananan dan pelayanan informal lainnya. Berikutnya sistem dan manajemennya, kalau di tempat lama mungkin menggunakan sistem dan manajemen sederhana, personal dan rukun rencang, maka di tempat baru sebisa mungkin juga mengakomodasi karakter tersebut.
Pemindahan klithikan harus dibarengi strategi promosi dan pemasaran (natural) terpadu dan berkelanjutan. Mereka musti diberi keadilan dalam menggelar dagangan, karena di tempat lama mereka mengatur diri sendiri, sekarang mereka lebih diatur. Atas nama keikhlasan dan keadilan pula, semua pedagang klithikan di tempat lama harus dipindah ke tempat baru.
Biarlah Jogja punya trade mark lain selain Malioboro, kraton, dan gudeg, yakni klithikan. Kita harus mendukung klithikan jadi ikon Jogja, sembari terus menggali ikon-ikon lain untuk mengembangkan kekhasan Jogja. Bukankah ini niaga genius loci, usaha khas suatu daerah yang didaerah lain tidak punya?. Walaupun Bandung juga punya sentra-sentra penjualan barang-barang seken tetapi atmosfirnya lain dengan Jogja. Depo-depo barang bekas dengan segala sebutannya (Babe, Barkas, Rangkas atau BB) di Bandung dibalut kemasan factory outlet, yang mungkin di Yogya terasa asing tidak homy untuk belanja.
Klithikan bukan sekedar kegiatan belanja barang loak, tetapi lebih kepada merayakan hubungan sosial di ruang publik. Penjual dan pembeli berhadapan (adhep-adhepan), pembeli menikmati barang sebelum membeli (mat-matan), tawar menawar dan akhirnya deal. Aura hangat, guyub serta manusiawi sangat terasa disini sambil plesiran.
Pengalaman deal disini mungkin berbeda rasanya dengan deal di supermaket. Tidak menutup kemungkinan deal-deal di klithikan akan diikuti oleh deal-deal yang lain, yang terkait atau tidak dengan barang-barang seken tadi. Inilah modal sosial yang belum tentu ditemukan di usaha-usaha ekonomi lainnya.

“Sang Pengendali Air”

rahmatan lil kampung No Comments »

Konon, Tuhan tidak menciptakan lagi tiga macam benda di bumi. Tiga macam benda tersebut, yaitu tanah, air dan udara. Tuhan mempercayakan manusia untuk mengelola bumi dan seisinya termasuk tanah, udara dan air sampai hari akhir. Kewajiban manusialah untuk membudidayakan segenap anugerah sumber daya bumi ini bagi kepentingan penghuni bumi.
Sulit membayangkan keadaan saat ini, alih-alih saat musim kemarau kemarin paceklik air, malah terdengar kabar di Sulawesi terjadi banjir bandang. Ketika terjadi bencana alam, terngiang petuah dari orang bijak bahwa alam sudah tidak bersahabat lagi pada manusia. Pertanyaannya adalah apakah manusia pernah berusaha uluk salam dan bertegur sapa dengan sang alam?.
Pada musim kemarau kita teriak-teriak kepanasan dan kurang air. Sumur-sumur kering yang menyebabkan kita gali dan gali lagi. Suhu dan kelembaban udara setali uang membikin gerah kehidupan sehari-hari kita. Di jalanan hanya ada emosi dan emosi yang mendidih. Di rumah gerah membikin kita tidak kerasan. Seolah-olah matahari diletakkan satu depa di atap rumah kita.
Ketika musim hujan tiba, kita bersyukur alam menjadi indah nan sejuk, dan sudah sampai disini saja. Air melimpah hanya kita pandangi, seolah lupa bahwa saat kemarau setetes air saja sangat kita dambakan. Air hujan menuruni atap jatuh ke tanah hanya kita lihat keindahan visualnya, mungkin kita abadikan dalam “puisi dan lagu”. Celakanya, kita juga mahir membikin syair dan prosa tentang kekeringan dan kemarau panjang.
Walaupun manusia tempat lupa dan keluh kesah, tetapi ada baiknya kita mulai belajar tentang mempersiapkan kehidupan di dua musim ini, khusunya musim hujan. Hiduplah di musim hujan seakan-akan kita mengarungi musim kemarau, dan nikmatilah musim kemarau seolah-olah kita berada di musim penghujan.
Jangan biarkan satu tetes air pun sekedar lewat di sekitar rumah kita tanpa ada manfaatnya. Sudahkan rumah anda bertalang, sehingga air akan terakumulasi pada suatu tempat dan memungkinkan kita simpan untuk keperluan remeh sehari-hari. Barangkali kita lebih suka menjadi penikmat cucuran air turun ke bumi dan mengikhlaskannya hilang di riol kota.
Apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Bogor dengan metode biopori patut kita teladani. Usaha ini cukup istimewa kalau melihat posisi Bogor yang terletak di dataran tinggi sehingga kemungkinan banjir kecil. Untuk apa repot-repot menyerapkan air, toh wilayah Bogor hanya dilewati aliran air. Daerah Jakartalah yang rutin mendapat parsel banjir tahunan, tetapi belum intim dengan metode-metode penyerapan air. Kesadaran untuk peduli pada wilayah sekitar telah dibuktikan sebagian warga Bogor dengan usaha biopori tadi.
Metode biopori sangat tepat dilakukan di tanah relatif luas dengan karakter non pasir, karena lubang hasil pengeboran akan tetap terjaga bentuknya. Apabila tanahnya berpasir, hasilnya kurang maksimal karena dimungkinkan lubang di tanah akan terurug sehingga penyerapan air tidak maskimal. Metode ini dilakukan dengan mengebor tanah sedalam 1 m dengan diameter 10 cm, kemudian ditutup dengan sampah organik. Diharapkan air hujan dapat meresap ke dalam lubang tersebut, senyampang kompos hasil sampah organik tadi dapat dipanen secara rutin.
Metode lain yang tepat digunakan pada tanah berpasir ialah menggunakan galian tanah sedalam 50 cm atau lebih dengan luas menyesuaikan dengan ukuran lahan yang tersedia dan diisi dengan koral. Galian dapat dibeton atau dibiarkan berdinding tanah saja. Diharapkan lubang berisi koral tadi dapat meresapkan air hujan kedalam tanah dengan lebih cepat. Penggunaan pipa pralon dari PVC atau tanah liat yang dilubangi juga terbukti efektif untuk meresapkan air, baik diletakkan vertikal maupun horisontal dalam tanah.
Secara “formal” sumur-sumur resapan dapat menggunakan buis beton dengan kedalaman disesuaikan posisi air tanah. Jangan sampai menyentuh air tanah karena dikhawatirkan akan mengganggu kualitasnya. Tentu saja metode ini relatif mahal dibanding dua metode sebelumnya. Yang terpenting adalah bagaimana mempercepat air hujan atau buangan cepat meresap kedalam tanah.
Lebih ideal lagi sebelum air hujan kita resapkan, kita manfaatkan untuk kegiatan non higienis seperti cuci kendaraan, siram tanaman atau sekedar kita manfaatkan untuk kolam ikan. Baru setelah kita eksplorasi air tadi, kita resapkan untuk di seleksi oleh alam menjadi air sumur.
Lebih luas lagi prinsip yang kita anut adalah jangan biarkan air dari rumah kita, baik air buangan atau air hujan keluar dari pekarangan kita. Kalau kita beranggapan bahwa riol selokan, parit sampai riol kota adalah tempat buangan air, sebenarnya air itu hanya pindah saja. Barangkali kepindahannya adalah bencana bagi orang lain di sepanjang aliran tersebut dan menjadi musibah bagi orang yang berada di muara saluran-saluran air tadi.
Niscaya dengan menerapkan prinsip tersebut bayangan terdapat pelabuhan di Kentungan Yogyakarta akan sirna. Bisa jadi beberapa tahun mendatang banjir melanda Jogja dan garis tepi airnya adalah daerah Kentungan ke arah Kaliurang. Pelabuhan Jogja Baru barangkali juga bisa muncul di daerah Piyungan sebelum naik ke arah Wonosari. Kalau di Jakarta mungkin di daerah Ciawi Bogor (penghabisan tol Jagorawi) sebagai pelabuhan Jakarta Baru. Semoga film Water World-nya Kevin Kostner tetap menjadi karya fiksi bukan kenyataan di tahun mendatang.
Kalaulah Sang Avatar (the legend of Ang) adalah pendali ketiga unsur alam (air, udara, tanah, ditambah api) susah untuk kita tauladani, cukuplah kita sebagai Si Pengendali Air saja, khususnya lagi di musim penghujan ini.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in