menemukan jawa di jepang

pit : sport, slow & hoyaq-hayiq, rahmatan lil kampung 1 Comment »

saya menggangguk mereka menggangguk. saya memberi salam mereka memberi salam. saya bilang permisi mereka mengiyakan. saya minta jalan mereka segera memberi jalan. saya minta maaf mereka menghamburkan keikhlasan dan bilang 'ah, gak apa-apa'.

di jawa, kalau tidak dipelosok desa, sekarang relatif susah menemukan keadaan seperti itu. di trisik, di sekitar baron-kukup-krakal, di bumiayu, di imogiri, di kaliurang, saya masih menemukan kehidupan seperti itu. hangat, guyub dan 'dunia baik-baik aja'.

sugeng enjing-ohayo gozaimasu, sugeng enjang-konichiwa, sugeng sonten-konbanwa dan sugeng ndalu-oyasuminasai. greeting pada waktu, sikap dan intonasi yang sama tetapi dengan pengucapan yang berbeda. saya menemukan kejawaan di sini.

mobil pasti berhenti ketika di ada penyeberang jalan, sang pengemudi mengangguk ditimpali ucapan 'nuwun' - domo arigato dari si penyeberang. atau mobil selalu minggir jika berpapasan dengan sepeda. atau sepeda acap menyapa pejalan kaki yang menghalangi jalannya, sambil mengucap sumimasen-permisi, dan hebatnya sang pejalan kaki menimpali dozo-silakan.

mungkin di jawa masa lalu, kejadian ini dapat kita temukan. atau harus masuk kepelosok desa nun jauh di mata yang pasti tak ada listrik disana, hingga kita bisa menikmati saling penghormatan ini.

atau jawa sudah terlalu cepat berubah? atau barangkali kyoto yang sangat lambat berjalan? entahlah, antara ja(v)anese dengan ja(p)anese hanya berbeda huruf v dan p doang. tetapi pengaruh iklim, geografi dan attitude yang menempa orang-orang disini begitu jawa.

Masyarakat (Enggan) Bersepeda

pit : sport, slow & hoyaq-hayiq 1,733 Comments »

Kampanye memasyarakatkan (kembali) kegiatan bersepeda melalui Jogjakarta Gembira Bersepeda oleh Jaringan Sepeda Hijau Kampus 1/9/06 lalu sepertinya tidak terlalu ngefek di masyarakat. Atribut-atribut jalur sepeda yang ditorehkan dijalan membentang dari kampus ke kampus (UAJY, USD, UNY, UII dan UGM) tidak lebih dari sekedar marka jalan biasa.
Saya mendapat undangan untuk memeriahkan acara tersebut dengan dress code : seragam institusi dan membawa sepeda. Penggunaan seragam institusi oleh peserta diharapkan dapat memperlihatkan bahwa bersepeda dapat dibudayakan untuk bekerja (bike to work). Hal ini juga ditunjukkan oleh ageman kerja yang dikenakan Sultan HB X sebagai Gubernur DIY yang memimpin kegiatan ini (baju krem lengan panjang, celana krem pantalon dan sepatu pantofel hitam).
Kami, atau paling tidak saya merasa nyaman bersepeda dari kampus-kampus tersebut, terutama didalam kampus yang memang kondusif untuk ngepit (USD & UGM). Tetapi ketika jalur sepeda melalui area luar kampus, jalan Mrican Baru (UAJY ke USD) - jalan Gejayan, jalan Colombo, jalan Cik Dik Tiro (USD ke UII ke UGM), kenyamanan bersepeda jauh berkurang.
Jalur sepeda terkesan hanya disisipkan ke ruas jalan yang sudah ada, sehingga mengurangi ruang untuk kendaraan bermotor. Belum lagi masyarakat belum ngeh dengan jalur sepeda tersebut, sehingga jalur sepeda sering terpotong oleh parkir taksi, becak, motor, kaki lima dan tutup lubang drainase kota.
Iring-iringan sepeda melalui jalur yang kurang dari satu meter di bahu jalan berjalan lancar, walaupun tanpa cucuking lampah (front leader dari pihak kepolisian). Hal ini memperlihatkan penguna jalan lain masih menghormati pengendara kereta angin, meskipun di beberapa persimpangan jalan tetap dibantu pengaturannya oleh polisi. Apalagi banyak pengguna jalan tersebut tidak tahu bahwa sepeda di barisan terdepan dikendarai oleh gubernur mereka tanpa pengawalan.
Untuk sekedar seremonial mengingatkan dan membangkitkan nostalgia Jogja Kota Sepeda, kampanye lalu dapat dikatakan berhasil. Apalagi di setiap kampus yang disinggahi konvoi sepeda selalu meninggalkan jejak penanaman pohon sebagai simbol gerakan peduli lingkungan, lingkungan kondusif bersepeda. Tetapi untuk menawarkan (lagi) sepeda sebagai sarana alternatif transportasi kota, tampaknya perlu aksi tindak yang lebih sinergis.
Apalagi kalau bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mereduksi polusi udara, meminimalkan jumlah kecelakaan, dan ingin mewujudkan lingkungan kota yang sehat, maka perlu kerja keras dan tenanan semua pihak.

Lingkungan bersepeda
Sebagai kota yang tidak terlalu luas, Jogja mempunyai ruas jalan yang relatif pendek dan banyak persimpangan. Hal ini adalah salah satu faktor penyebab kemacetan beberapa ruas jalan, apalagi saat liburan sekolah maupun nasional. Faktor lainnya adalah jumlah kendaraan bermotor, kaki lima, jalan satu arah, dan pemintakatan parkir. Jalan di kota Jogja sebagian besar mempunyai panjang kurang dari 3 km, artinya dalam jarak tersebut tidak terdapat persimpangan. Hal ini sangat memungkinkan dan menguntungkan bila mobilisasi masyarakat menggunakan sepeda.
Kenyataannya, kondisi jalan kita tidak (terlalu) mendukung untuk bersepeda (baik secara “gembira” maupun tidak), sehingga masyarakat enggan menikmati kereta kayuh untuk beraktifitas sehari-hari. Adapun kendala orang malas bersepeda adalah, pertama, kondisi sosial masyarakat yang menganggap sepeda itu bagi kaum pinggiran, kampung atau ndeso.
Saya melihat bahwa gagasan untuk ruang jalan untuk sepeda adalah impian orang yang sudah kaya, karena kalau kita melihat di kampung, jarang orang yang menginginkan membeli sepeda kecuali untuk anak yang masih kecil. Anak usia SMP ke atas ingin naik sepeda motor dan mahasiswa ingin memakai mobil.
Walaupun masih ada ruang di kampung, paling yang mau memakai adalah bakul. Di kampung, menggagas agar orang membeli atau memakai sepeda sudah sulit. Pun di jalan-jalan kampung yang merajai adalah mobil, karena ada perumahan yang melewati kampung itu, sedangkan orang kampung hanya memakai motor, akhirnya untuk mengkontrolnya dengan membangun polisi tidur,
Kedua, keadaan jalan tidak kondusif untuk bersepeda. Banyaknya kendaraan di jalanan yang memakan ruang begitu luas, mengakibatkan jalur pesepeda tidak memadai atau tidak ada dan tidak aman. Kalaupun bisa untuk bersepeda biasanya menempati bahu jalan mepet trotoar atau bahkan jalan tanah, yang banyak tersita untuk pedagang kaki lima atau parkir.
Kendaraan bermesin menghasilkan asap sebagai polusi udara, yang tentu membuat tidak nyaman pesepeda. Udara panas di jalan juga mempunyai andil menciptakan keengganan masyarakat bersepeda. Kurangnya vegetasi di sepanjang jalan yang dapat menciptakan pembayangan sebagai naungan, mengakibatkan keadaan jalan cenderung panas dan gerah.
Ada beberapa strategi yang perlu diperhatikan untuk mempercepat terwujudnya Jogja Kota Sepeda (lagi). Mobilisasi kaum urban ini menuntut syarat-syarat untuk terwujudnya aktivitas bersepeda. Pertama, merangsang masyarakat untuk memiliki sepeda, baik untuk klangenan, olahraga, rekreasi, bekerja atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Hal ini dibutuhkan kerjasama dengan produsen atau pemodif sepeda (baru dan lama) dalam menyediakan tipe, bentuk dan fasilitas sepeda yang disesuaikan dengan aktivitas masyarakat.
Kedua, membangkitkan minat masyarakat untuk menggunakan sepeda tersebut. Hal ini dapat melalui penyediaan jalur khusus sepeda, tempat parkir khusus sepeda, even-even Jogja Kota Sepeda, dan mungkin pelaksanaan Hari Bersepeda Jogja (bisa dimulai dari lingkungan kampus pelopor sepeda).
Banyak keuntungan yang didapat dengan bersepeda, karena hanya membutuhkan space yang sempit (sekitar 90-100 cm), hemat energi, kita selalu bergerak sehingga terhindar dari kegemukan, sakit jantung, dan mungkin stroke.
Bukankah kita lebih enggan untuk berpenyakit tersebut dibanding bersepeda?


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in