atas nama keindahan

bangunan tradisi, budaya dan kita, jepang No Comments »

entah mengapa minggu ini ada beberapa rekan yang bermasalah dengan fusuma (ふすま : pintu geser penghubung antar ruang, berbahan kertas tebal atau kaca biasanya terdapat gambar atau lukisan alam).

ada yang pecah kacanya karena terlalu keras menutupnya, ada yang rusak kayu rangkanya sebab tergelincir saat membuka, retak kaca sebidang kecil dari belasan kaca yang bersusun secara kotak-kotak atau kaca pecah lantaran kena bola anak-anak yang bermain di dalam rumah.

"mas, tahu (orang/perusahaan) yang bisa memperbaiki pintu geser?"

begitu pertanyaan yang muncul beberapa hari ini.

***

pintu ini tidak bisa diperbaiki sebagian atau pada bagian yang pecah saja

harus keseluruhan

karena kaca hias yang terjepit diantara kerangka kayu langsing itu berkelindan warna dan motifnya

sehingga bila diganti sebagian akan kelihatan belang dengan tetangganya

maka, itu yang menjadikan mahal

apalagi pintu geser ini biasanya double

untuk sisi kiri dan kanan

mahal, memang mahal

ongkos perbaikan dan material 1 lembar pintu sekitar 50000 yen

bila kanan kiri ya tinggal kalikan 2

ya tinggal kalikan 100 (kurs 1 yen : 100 rupiah)

maka jadilah ongkos dalam rupiah

yang mahal ya ongkos tukang

namun jaminan indah

uji | katsura | imadegawa

sepeda kanginan

budaya dan kita, jepang No Comments »

sepeda atau kereta angin atau kereta kayuh memang ringan dan dibuat ringan.

ringan bahannya, ringan mengayuhnya, ringan perawatannya namun belum tentu ringan dalam mendapatkannya.

ini kisah sepeda yang mengitari hari-hari disini.

begitu datang dihadapkan pada pilihan menunggu sepeda 'buangan' atau beli gress karena tidak ada salahnya mendapatkan sepeda perawan untuk dipakai minimal tiga tahun kedepan.

namun seorang teman, jauh hari sebelum saya datang ke sini, mendapatkan sepeda di bak sampah dnegan kondisi masih layak jalan. sepeda yang kalau di kampung halaman saya digunakan oleh tukang bangunan saya dengan bangganya. berangkat dan pulang kerja, mengantar anak sekolah dan pergi belanja menjemput barang di pasar.

anehnya teman saya belum sempat mencicipi sepeda tadi. beliau hanya menyimpannya yang suatu saat akan dipakainya. lhah, ndilalah kersane Allah, kok sepeda itu saya perawanin walaupun sudah (mungkin) janda berkali-kali.

dengan dibawa ke bengkel sepeda, yang setiap  hari rabu selalu tutup (seperti tukang cukur di ciamis jabar). sepeda dilihat, dia senyum. kemduian menuliskan harga yang harus kubayar di kalukulator. wakkkss... mahal amat yang dengan uang itu bisa membeli sepeda baru dengan menambah sedikit.

itung punya itung, okelah kalhok begithuk (kata orang bali), toh saya hanya memakai 2 bulan. setelah itu menunggu warisan dari teman-teman lain.

akhirnya kutunggangilah sepeda mirip federal dengan keranjang dibelakang. lumayan lengkap ada bell, mantol hujan, keranjang, dan kunci rantai.

***

setiap jumat dari apato ke kampus, kulihat banyak sepeda bertebaran di pajang pemiliknya di pagar, dan sepertinya untuk dibuang. namun untuk mengambil dan memanfaatkan, masih gamang. kalau-kalau....

***

keluarga bergabung kemudian, untuk membantu mengusung beban hidup ini. dua dari sepeda yang dibutuhkan diwarisi dari keluarga yang akan kembali ke tanah air, lengkap dngen kunci, lampu dan boncengan anak.

untuk anak-anak, ada seorang rekan menyimpan sepeda 'buangan' beberap bulan lalu. ada dua sepeda yang dibuang, satu sepeda jengki dan satu sepeda anak. karena sepeda anak masih bagus, namun tidak bisa digunakan rekan yang berbadan tinggi tegap, maka sepeda itu ya disimpan saja.

lhah, ndilalalah kersaning Allah, sepeda tadi ditawarin ke saya untuk anak-anak.

dan sepeda menjadi tiga buah dalam 3 bulan.

***

seorang senior akan berpindah tugas, karena diterima di shizuoka dan meninggalkan sepeda lipat warna oren. kuminta, dan terlambat. katanya sudah dikasihkan ke temannya. ternyata temannya sudah mendapatkan sepeda dari teman lain juga yang juga pindah ke osaka. akhirnya teman yang di kasih sepeda oren menyerahkan seperangkat sepeda lipat kepadaku.

dan entah mengapa baru dua minggu sepeda lipat itu raib dari parkiran pinggir jalan. pukul 08.00 pagi saat anak-anak sekolah masih ada, dan sesaat kupergi ke kampus sudah raib. ya, sudahlah sepeda kanginan.

***

beberapa minggu lalu ada yang memarkir sepeda malang melintang di area parkiran kami. satu minggu posisinya masih melintang menghalangi sepeda yang akan parkir dan keluar. dua minggu masih aja sepeda membujur kaku mengangkangi para peseda melabuhkan sepeda ke kandangnya.

iseng-iseng ku cek. sepedanya ada boncengan anak, sedikit berkarat, masih bagus, kokoh dan hebatnya adakuncinya... wooww, mungkin dibuang halus nih...

tiga minggu masih saja berdiri mengangkang, okelah saya pakai. nanti kalau ada yang punya tinggal dikembalikan saja.

sampai sekarang kok tidak ada yang mencari sepeda itu, ya sudahlah kupakai terus.

sepeda menjadi empat dalam empat bulan.

***

ada rekan lain yang akan bertugas di tanah air, dan bernafsu ingin mengenyahkan barang-barangnya termasuk sepedanya. dua buah lagi dan ada bonusnya bila mengambil dua sepeda sekaligus, berupa pompa. kuminta sepeda yang kecil untuk anak, sebagai ganti sepeda lipat yang hilang.

sepeda menjadi lima dalam 4 bulan terakhir.

***

sepeda memang ringan, ringan mendapatkannya dan ringan melepaskannya. namun sebelum lepas, berharap ingin mencecap banyak manfaat dan berkah dari angin yang menghembus sepeda-sepeda ini.

Sugoii!

budaya dan kita, jepang No Comments »

Kukatakan ohayo gozaimasu, itadakimasu dan itekimasu. Kau balas, sugoii!

Kusampaikan watashi wa nihon go wakarimasen. Kau jawab, sugoii!

Malu, kubisikkan zen zen wakarimasen. Kau tanggapi, sugoii!

Tiga bulan masih begini, memang aku rindu sugoii goiyeng kambing spesial.

uji - kyoto, summer bledegg!

"panggil aku luo"

budaya dan kita, jepang No Comments »

pagi pukul 05.00 jst. belum subuh. dingin 4 derajat selsius. selimut rangkap dua. sprei dobel lapis. singlet, kaos panjang, baju hangat dan jamper membalut tubuh. cawat, celana panjang katun dan celana training menggedong kakiku. hangat, enggan beringsut apalagi beralih.

06.00 jst, belum juga subuh. kuseret badan ini meninggalkan peraduan untuk sekedar membasuh jendela hati. kusimpan urine untuk nanti siang.

***

habis lohor, bergegas menghampiri bus kampus menuju kampus lain. satu jam sight seeing di kyoto menuju kampus utama. "gedung samping kantin, yang besar dan berbata merah," kata temanku menerangkan saat kutanya letak health center.

masuk, lebih hangat beberapa derajat daripada udara luar. sepi. kemudian disambut oleh perempuan muda yang menanyakan keperluanku.kusodorkan amplop udangan cek kesehatan. segera dijawab dengan sodoran form isian. kulihat dan waduwww, pakai kanji.

celingak-celinguk gak ada tempat bertanya, si mbak sudah pergi. mencari kepekan, mungkin ada pertanyaan yang sama dengan yang sudah aku jalani selama ini. kartu kesehatan, kartu tanda penduduk, dan kartu sejenis aku keluarkan. yang penting ada kepekan.

sudah selesai. sebagian. sebagian yang lain belum, nama -nama yang aku tidak tahu apa itu dalam bahasa bersuku asli ainu ini.

***

ada orang putih, laki, berkacamata, kurus dan ramah. membantu menuliskan bahasa 'pliket' ini. dan dia juga ingin meminjam enpitsu-pensil dariku. klop-lah.

dia menunggu aku selesai mengisi form, dan menyerahkan form dan urine bersama. dipanggil hampir berbarengan, mengurus bersama. cek tekanan darah, cek mata,

wah, setelah selsai di cek mata secara mandiri kok hasilnya 'tidak bisa melihat'. hasil cek tekanan darah 'rendah sekali'. ternyata, metode cek mata salah kulaksanakan. operandi cek tekanan darah hasil rendahkarena jaket double masih kukenakan.

terakhir rontgen. buka baju atas, menggelantung dipotret dari depan dengan dada menempel alat sinar x.

gocicosama desu. arigatou gozaimasu. selesai sudah.

pulang. dingin

***

tiga hari yang lalu aku melihat orang yang menolong mengisi form-form kanjiku. ngobrol. bertukar no hape. kusebut namaku, dia belum menyebut nama. nanti ku sms katanya. halah, menyebut nama saja kok harus pakai sms. okelah...

derrrrr, hp-ku bergetar. tanda ada sms. "hi, my name is luo. nice to meet you. keep on touch, please."

ooo, ternyata dari china to? tak kira nihon jin je.

selamat

budaya dan kita, jepang No Comments »

namanya slamet, saya kira. dan saya memanggilnya juga slamet. menyapa di jalan, saat minta tolong, dan basa-basi padanya pun saya panggil slamet. seiring berjalannya waktu, kutahu namanya andri siswanto. perihal menjadi slamet, karena dulunya ia sering sakit-sakitan. atas petunjuk orang pintar digantilah namanya slamet. satu lagi, si anak harus 'pura-pura' dititipan ke orang yang lebih tua dari orang tuanya sekarang. jadilah namanya slamet walau aslinya andri siswanto.

selamat pagi, selamat siang dan selamat malam. siapakah yang diberi selamat? pagi, siang atau malam. atau memberi selamat bagi orang dihadapannya saat pagi, siang dan malam. selamat pagi, siang dan malam bisa menggantikan assalamu'alaikum kata seorang kyai tersohor.

selamat anda layak dapat bintang. ahh, seperti iklan minuman beralkohol no satu di Indonesia.

selamat jalan, selamat tinggal atau selamat datang. semoga sewaktu jalan, tinggal dan datang kita diberi selamat.

selamat ujian, semoga selamat dikala ujian. sebenarnya saat ujian kita tidak hanya butuh selamat namun lulus juga.

***

namun, sore ini 17.00 jst. ucapan selamat itu begitu indah diucapkan. "jangan omong dulu, ini masih rahasia", lanjutnya. itu lebih menambah selamat lagi.

bagaiman aku bisa bersyukur? karena syukurku memerlukan syukur lagi.

bulan tandan kering

budaya dan kita, jepang 1 Comment »

delapanbelas hari yang lalu, bulan itu seperti tandan kering. bergelayut manja pada daun langit. jernih tiada hijab memancarkan amanah sinar mentari di balik sana.

tiga hari kemaren, bulan itu menggemuk subur. memancarkan rona berseri-seri pipinya yang kuning keemasan. bening bak perawan gunung baru mengenal jejaka.

kemaren sang bulan tak menampakkan diri. tertutup oleh mendung yang sangat. mendung yang menggendong air. tanah tak sempat berkata, hujan sudah membasahai raganya.

hari ini bulan beringsut kedinginan. sejak pagi hujan meludah bersautan tanpa suara. hari menggigil menjadikan sore menyublim beku.

tigabelas hari lagi. ya tigabelas hari lagi, bulan akan mengering lagi. saat itu aku akan menikmatimu di tapak dunia lain. jauh diselatan beribu mil dari sini.

bulan tandan kering disini dingin acuh.

bulan tandan kering disana hangat memeram.

sebenarnya bukan tandan kering, menyabit atawa purnama. yang menjadikan senyap dan pikuk, namun hati yang bisa mengering, menyabit dan berpurnama sidhi.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in