Lonceng Masjid

dakwah bil ars No Comments »

Teng-teng-teng. Allohu akbar Allohu akbar. Teng-teng-teng, adzan berkumandang. Teng-teng-teng, iqomah mengundang. Dimanakah bedug kayu raksasa? Duk-duk-duk, jamaah berjejal keluar meraup sandal. Duk, duk, duk, bedugnya sedang studi banding ke gereja.

st antonio church, riva del garda

trentino, italy

Marmer Pak Kyai

dakwah bil ars No Comments »

“Saya ingin masjid ini memakai marmer nomer satu, yang darinya jamaah khusyu’ mereguk kesejukkan sholat”, wanti pak kyai. Masjid mengembang, adzan mengundang. Surban Arab kyai diletakkan diatas sajadah Majalaya, diatas karpet Turki yang bersembunyi di marmer Italy. Keningya mengecup surban, sajadah, karpet dan marmer. Untuk apakah marmer yang mahal sekali, pak kyai?

Dosa Cemara

dakwah bil ars No Comments »

“Apakah dosaku?”, lenguh cemara. “Mengapa aku dicampak-siakan seperti ini”, sengguknya. “Apakah karena fisikku, sejarahku atau penampilanku di masa lalu?”, sergahnya.

Cemara yang kami semayamkan dengan penuh peluh kasih di depan kampus ‘rahmatan lil’alamin’ diprotes, dibuang dan diganti dengan makhluk tuhan lain yang katanya lebih Islami. Cemara itu tidak layak menjadi ikon kampus kita, dia sudah menjadi kapter non-Islam sejak dulu kala, kata tetua.

Cemara menangis layu, dan kami pun kelu.

bangunan ramah gempa

arsitek(tur) tanggap bencana, dakwah bil ars 300 Comments »

belum kering air mata ini menahan derita korban gempa di sukabumi, sudah disusul gempa di padang kemaren 30/9 dan dihunjam pilu hati ini gempa di jambi 1/10. kelu rasanya lidah ini untuk berucap menyaksikan bumi menggeliat mencari keseimbangan lempeng.

teringat 3 tahun yang lalu, pagi pukul 05.53 wib sabtu 26 mei 2006. bagaimana paniknya keluar dari rumah yang bergoyang berderak sambil menggamit 3 balita. karena sabtu libur sebagai konsekuensi 5 hari kerja dan sekolah, maka sehabis sholat subuh, kami pun rebahan nonton tv di lantai dua dan terlelap kembali.

suara berderak itu datang, semakin lama semakin keras, seperti ribuan tikus merayap diatap rumah kami. kok, lemari juga ikut berderak-derak. ooo.. gempa, saya meraih anak yang paling kecil 1 tahun, kemudian membangunkan dua anak lainnya 4 dan 6 tahun. maksud hati mau keluar rumah dengan turun kelantai satu dan keluar. rumah kami rumah panggung ketinggian dari lantai dua sampai ke tanah 3.5 m. setelah melihat tangga yang ikut bergoyang, kami urungkan keluar rumah dan bertahan merasakan getaran gempa yang mengoyang lantai papan kayu rumah kami.

akhirnya gempa mereda, dan diikutin gempa susulan yang lebih lemah. kami masih merasa masih goyang, seperti 'tomtomen', atau seakan-akan masih gempa. maklum gempa pagi itu lumayan lama sekitar 58 detikan. dan kami bisa keluar rumah melalui pintu depan yang kami kunci dengan dua palang kayu.

spontan kami berlari ke lapangan yang berada di depan rumah untuk melihat keutara, menengok siluet segitiga hitam berdiri tegak yang mengepulkan asap hitam bercampur putih menjulang. ya, merapi gunung paling aktif di dunia sedang terbatuk setelah 'diograk-ograk' lindu.

dua bulan itu, kami difokuskan kepada perilaku gunung merapi yang bergejolak. dan tuhan tidak mau ditebak, maka bencana datang dari sebelah selatan, bukan dari arah utara sepeti perkiraan orang banyak, para ahli dan komentator. katanya, kepala naga di utara sudah dipegang mbah maridjan, tetapi ekornya menggeliat di sebelah selatan, maka bumi-pun bergoyang mengikuti sesar opak, sepanjang parangtritis, imogiri, piyungan dan klaten.

*****

saat membangun rumah kami, kami berkesempatan mengawasi dan mengamati bata demi bata disusun, batang besi demi batang dijalin. hal ini mengakibatkan kecermatand alam pengerjaan, walaupun waktunya relatif lebih lama. maklum, karena dana kami tidak tak terbatas. mencicil semeter demi semeter batu tersusun menjadi tempat bernaung.

banyak tamu yang berkunjung ke rumah kami 'bersaksi' bahwa rumah kami tahan gempa, setelah melihat visual balok dan kolom yang kami ekspos. kami hanya mengamini. banyak orang yang bersua di jalan sekedar mampir menyatakan bentuk rumah kami kuat dan kokoh. kami-pun mengamini. dan semua mahasiswa yang kami undang untuk sekedar open house ketika rumah kami tempati senyampang buka puasa tahun lalu bertanya " rumah ini dihitung tahan gempa ya". kamipun menggangguk bukan setuju, tetapi lebih banyak berharap pertanyaan itu sebagai sebuah doa.

ketika rumah kami berderak, tidak pernah terbayangkan rumah kami tanggap gempa apalagi tahan gempa. hitungan struktur oleh rekan sipil kami, tiadalah kami ingat. atau bagaimana cerewetnya kami terhadap tukang ketika memasang sengkang atau begel pada sambungan balok dan kolom, tidak terbekas. atau lamanya membuat hak antara tulangan balok masuk ke tulangan kolom, tidakpun kami anggap. atau bagaimana kami memelototi campuran atau adonan beton oleh tukang, tidaklah kami 'reken'.

sungguh, ketika rumah kami seperti dilalui himpunan landak hutan sehingga berderak-derak, yang ada dibenak kami hanya 'kerahmanan dan kerahiman' tuhan semata. hanya kasih dan sayang tuhan saja yang menyelematkan kami dan rumah kami. tuhan juga ingin kami tidak dihinggapi rasa malu tujuh turunan, ketika tuhan akan mengijinkan rumah kami rusak berat atau roboh kanrena gempa 5.8 SR itu. lha wong arsitek dan dosen struktur lagi, rumahnya kok 'keok' oleh lindu yang hanya semenit itu. apa kata dunia?

ah, gak urusan dengan dunia. saya hanya terbayang bagaimana kaisan rejeki yang saya dapat untuk membangun rumah ini. kalaulah rumah saya diijinkan rusak karena gempa itu, saya yakin karena Alloh ta'ala berkenan membersihkan kaisan rejeki yang saya tempel susun menjadi rumah ini. saya tidak sedang membicarakan rumah-rumah yang lain, justru karena ini rumah sendiri maka saya berani 'ngudarasa' tentang merumah ini.

rumah ketika digoncang gempa itu seperti kalau kita muntah-muntah mabuk darat naik mobil naik turun bukit berkelak-kelok. tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali memuntahkan segala isi perut kita. kalau kita bertahan, kerongkongan dan lambung kita malah tambah sakit. kalau kita berani, maka kita berhentikan aja mobil dan kita istirahat dulu. tapi gempa tidak bisa didatangkan atau disuruh berhenti. yang bisa kita lakukan hanya pasrah dan kepasrahan itu membuat kita enteng dan lega pasca muntah.

bangunan yang hebat, bukan yang tahan terhadap gempa. karena ketahanan itu ada batasnya. bangunan yang hebat adalah bangunan yang bukan hanya tanggap gempa tetapi ramah terhadap gempa. seperti orang muntah tadi yang naik mobil. ketika mobil kekiri, kita ikut kekiri dan jangan coba menahannya. ketika mobil mengoleng kekanan, kita ikut kekanan. taat, tunduk patuh dan pasrah setelah kita berusaha menghitung, mendesain dan membangun bangunan kita.

*****

ketika gempa menyapa, saya tertunduk malu kepongahan akan kepastian hitungan ketahanan gempa bangunan yang saya bangun. saat gempa mengalun, seluruh sendi logika saya akan kestabilan dan kehandalan struktur bangunan menjadi kelu. malu dan kelu adalah tanda kepasrahan, yang daripadanya saya berharap kasih sayang tuhan berkenan mengijinkan bangunan-bangunan yang saya rancang tetap tegak santun menghamba pada fungsi kemanusiaannya.

lantai masjid & kaos kaki

dakwah bil ars 82 Comments »

selalu, ketika diminta mendesain masjid pas sampai pada pemilihan material lantai masjid ditanya material penutup lantai apa yang paling bagus.

***

dan selalu juga saya jawab, apakah jamaah masjid akan disambut dengan kepolosan lantai atau kemewahan lantai. artinya lantai secara langsung tanpa tedeng sebagai tempat sujud atau lantai harus 'dibedaki' dulu sebelum dahi menyentuh tempat sujud.
banyak pengurus bahkan owner pemilik masjid menginginkan pilihan kedua, yaitu menyambut jamaah dengan kemewahan terutama pada lantai.

***

jadilah lantai masjid ditutup keramik atau marmer. bersih, dingin, yang melawan panas tubuh ketika tubuh ini duduk, berdiri maupun sujud. kemudian lantai yang 'mewah' tadi dibaluri oleh karpet 'mewah' juga, yang menjadikan kemewahan lantai menjadi pupus. herannya, banyak juga bahkan hampir selalu para jamaah yang terhormat membawa sajadah untuk menutupi karpet 'mewah' tadi. ini masih ditambah lagi para jamaah yang hobi mengkalungkan selendang atau sorban, digelar untuk menutupi sejengkal sajadah di bagian tempat sujud.

***

kemanakah lantai mewah tadi? musna kemewahannya ditutup oleh selembar selendang 'wak haji'. super mubadzir, mengapa penutup lantai tidak dari semen saja?.

***

sepatu atau kasut dipakai bertujuan untuk melindungi kaki dari gesekan dengan eprmukaan jalan yang berupa tanah lembut tapi kotor atau jalan aspal bersih tapi kasar. tapi biar gak lecet dipakailah kaos kaki. kaos kaki dipakai untuk tujuan menjaga jarak antara sepatu dan kaki. kaki begitu takut akan sepatu yang bisa membuatnya lecet di jempol, bagian sisi kiri-kanan kai dan tungkai. sakitnya bukan kepalang bila lecet. tapi sebenarnya sepatu melindungi kaki atau malah mengancamnya sih? mengancam membikin bau kaki kita karena kelembabannya, melecetkan kaki kita karena gesekannya. meskipun belum sampai ke tignkat super mubadzir, tapi pasti lebih kalau sekedar mikro mubadzir.

***

hidup mungkin seperti ini. menutupi sesutau dengan sesuatu yang tidak perlu. kapan kita berani jujur, apa adanya, yang membikin hidup tidak tergesa dan bersahaja.

"jangan sembahyang di rumah, please"

bangunan tradisi, dakwah bil ars 113 Comments »

ada tiga jenis rumah di perkampungan suku sasak, di dusun sade - lombok tengah. satu, rumah bale bontar, yaitu tipe rumah bagi pendatang. luas rumah dan bentuk rumah hampir sama tetapi di rumah ini tidak ada perbedaan elevasi lantai dan terkesan blong-blongan tanpa tata ruang yang baku, dan mempunyai beranda depan. kedua, rumah bagi penduduk suku sasak asli. lantai dalam rumah berundak dua tingkat, memiliki dua karakter ruang yang berbeda di depan dan belakang, tetapi tak mempunyai teras. tipe rumah ini bernama bale gunung rate. tipe terakhir adalah bale kodong, atau rumah yang diperuntukkan bagi orang-orang tua. rumahnya kecil, hanya cukup untuk tidur saja. seperti cungkup kalau di jawa. karena orang tua terbatas akses dan mobilisasinya, maka bentuk dan ukuran rumah ini cukup sesuai tetapi kurang layak dari aspek kenyaman dan budaya "hormat orang tua".

di rumah bale gunung rate, tata ruang rumah dibagi menjadi dua. bagian depan untuk menerima tamu "saudara" dan tempat tidur bagi pria penghuni rumah. bagian belakang sebagai dapur dan tempat tidur bagi perempuan penghuni rumah. menerima tamu biasa dilakukan di berugak sekempat yang ditempatkan di depan rumah.

kemaren kami diterima di berugak sekenam dusun (bale dengan enam sake) yang berda di depan dusun. kemudian kami diterima oleh rumah keluarga di bale lumbung, yang kebetulan diletakkan di depan rumah. biasanya jarang tamu ditempatkan di lumbung, tapi karena kami ingin cepat berdaptasi maka jadilah kami berhaha hihi di lumbung sebelum masuk ke rumah induk.

sekarang tidak banyak rumah yang melestarikan bentuk lama rumah mereka, terutama keberadaan bukaan. dulu, aslinya memang tidak ada bukaan di rumah mereka. sekarang karena kebutuhan dan tren, maka dibuatlah bukaan disisi kanan dan kiri pintu masuk. pintu masuk ini juga berubah, dari pintu yang berbentuk sorong dnegan bahan bambu anyam menjadi pintu 'swing' kayu. jendela ada berbentuk jendela kayu yang bisa dibuka keatas atau kesamping, dan ada juga yang ebrbentuk kaca mati atau nako. dulu bentuk jendela hanya berupa jalusi yang ditutup kain atau bidang anyaman bambu.

pelestarian yang lain adalah soal tradisi mengepel lantai. lantai rumah bale gunung rate menggunakan tanah liat yang dicampur dengan sekam padi plus kotoran sapi. liat, kuat, keras saat kering dan halus nan mengkilap. setiap 2-3 bualn sekali untuk menjaga keausan lantai akibta injakan kaki atau gesekan dengan barang, maka lanatai dipel. bukan dengan air plus deterjen yang membuatnya lengket dan berantakan atau 'mbradul-mbradul', melainkan menggunakan hahan dasarnya, yaitu tanah liat lembek dan tahi sapi. tanah liat yang 'nyemek' laksana bubur bayi (airnya tidak terlihat) dicampur tahi sapi sebagai hardener dan pengkilapnya. adonan dioleskan di lantai sampai rata dan dibiarkan mengering 12 jam. katanya penghuni rumah, nyamuk, serangga, kecoa dan tikus menyingkir karena ritual melantai ini. tahi sapi sifatnya pedas dan keras menghalau binatang-binatang tersebut. ruapnya menyesakkan mata dan memedaskan hidung (terbalik ya..)

jam menunjukkan pukul 18.30 wit, kok adzan magrib belum dikumandangkan? tanyaku dalam hati. katanya masjid ada disebelah rumah yang kami tempati. atau karena listrik mati ya, atau tradisi berteriak-teriak dilarang didusun ini. ya, sudahlah ambil air wudhu dulu dan berniat sholat di rumah aja.

segeralah ambil air wudhu dari 'padasan' sade. sajadah digelar di lantai setelah sebelumnya mencari arah kiblat dnegan kompas dijital. tangan sudah terangkat mengiringi takbirotul ikhrom, baru sadar upssss.... lantai ini kan dilapisi oleh 'lapisan pengkilap tradisional'. waduh, urung niat saya sembayang dirumah. saya ajak makmum saya pindah ke masjid yang tanpa kumandang adzan. di masjid juga sepi, mungkin mereka sudah selesai sholat berjamah batinku berhuznudhon.
barangkali ini merupakan kearifan lokal 'memaksa' umat tidak sholat sendirian apalagi dirumah.

seluruh lantai rumah tidak syah untuk alas sembahyang. jangan sembahyang di rumah, please, karena sholat harus di masjid. hebat strategi leluhur orang sasak ini.

Mengapa Orang Yahudi Banyak Yang Pintar ?

dakwah bil ars 262 Comments »

".... kami tidak akan merasa gusar sampai umat Islam bersemangat sholat shubuh seperti mereka mendirikan sholat Jumat..."

barangkali ini perlu kita renungkan postingan dari Chappy Hakim - 5 Februari 2009 (http://www.chappyhakim.com/2009/02/mengapa-orang-yahudi-banyak-yang-pintar/).

Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.

Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.

Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).

Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.

Yang istimewa lagi adalah : Di Isarel, merokok itu tabu ! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. Walaupun, kalau kita perhatikan , maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi ! Tetapi yang merokok , bukan orang Yahudi.

Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa , minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.

Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion“.

Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk “fokus” dalam berpikir !

Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, “research and development” khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi. Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.

Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel , bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang “Bodoh” dan “Dungu”.

Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar ! Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan.

dewi SRI, kemakah engkau?

dakwah bil ars 223 Comments »

seharusnya pariwisata berwawasan lingkungan sudah tidak relevan lagi di bali. mungkin perlu diganti dengan lingkungan yang berwawasan wisata. manusia itu (sedikit) ahli merekayasa. peraturan yang sudah disepakati didepan, direkayasa di belakang. selain orang Bali tidak boleh memliki tanah di Bali. mereka, para investor (yang setengah ahli) merekayasa bagaimana caranya agar dapat menguasai tanah di bali bagi kelanjutan emperium bisnis wisatanya. pinjam nama-lah, hubungan keluarga-lah (menikah dengan orang lokal) dan lain-lain.

turis awalnya hanya mau melihat (to see - alam, pantai, gunung, adat) kemudian mencicipinya (to eat - kuliner, adat, kehidupan) dan mengenangnya (to buy - cinderamata, gambar, kenangan, bahkan tanah dan pantai, sawah dan gunung). wadahnya tetap tetapi isinya terus bertambah bahkan berganti-ganti.

salah satu kehebaan bali adalah pertaniannya, mutu berasnya, cara taninya, subak, terasiring dan adat bertaninya. modal kehebatannya adalah sawah, keterampilan tani dan mengolahnya. sawah sudah dikonversi menjadi hotel dan vila plus ruko-ruko akibat pariwisata. keterampilannya otomatis menguap menjadi terampil bekerja dibidang lain, dagang, pemandu, dan menjadi turis sendiri. pengolahannya sudah tergeser.

beras itu rakus air. waktu ditanam tanaman padi sangat tergantung pada air. air harus menggenang, berati irigasinya harus mutlak baik. ketika beras menjadi nasi, juga rakus air. paling tidak rasionya 1 : 1. satu air satu bulir beras, bahkan lebih.

lihatlah penghargaan mereka terhadap padi. setelah panen yang dipotong dengan alat khusus (seperti ani-ani di jawa), gabah diletakkan diletakkan di tempat khusus, yaitu lumbung. mereka serius membangun lumbung. arahnya, letaknya, konstruksinya dan bahan yang digunakan sangat dipertimbangkan, bahkan treatment-nya. dan mereka percaya padi mereka adalah hasil kasih dan sayang sang Dewi Padi, Dewi SRI. mereka pantang untuk menjual padi, pamali kata orang Sunda. malu, enggan, dan mungkin takut terhadap adat mereka yang melarang menjual gabah hasil panen sawah mereka.

setelah sawah hilang, petani berganti profesi, lumbungnya kosong, kemanakah perginya dewi SRI itu? mungkin ikut audisi dream girl atau menjadi dewi-dewi atau mahadewi yang ngamen di hardrock cafe kuta.

"itu"-nya bali

dakwah bil ars 142 Comments »

walaupun premis asta kosali-kosali dipatuhi diseluruh lingkungan binaan di Bali, tetapi tidak ada kesatuan pun kesamaan yang mirip baik bentuk, langgam ataupun sekedar detail bangunan di Bali.

ketika desa-desa bali banyak yang menggunakan ornamentasi ukiran baik di kayu, batu atau media lain, kita lihat desa Bali Aga Tenganan Pegeringsingan santun melawan hal ini. di sini kayu dan batu terlihat polos, nir ornamen dan hening. di desa Tenganan Dauh Tukad (sebelah atas pegeringsingan) juga menampakkan hal yang berbeda lagi, disini bale kul-kulnya ada ditengah desa, bukan dipinggir atau didepan sebagaimana lazimnya penempatannya di lingkungan Bali.

tata masa rumah Bali, tidak hanya mengikuti sumbu makrokosmos tetapi juga menyelearaskan dengan atmosfer mikrokosmos. gunung dan air (laut) menjadi bagian yang mulia. tetapi letak pekarangan terhadap jalan lebih dominan di gunakan dalam menentukan tata letak bangunan di lingkungan tapak Bali.

dapur selalu diletakkan di selatan sebagai perwujudan menghormati sisi kemuliaan itu (laut). tetapi di desa Wongaya Gede dapur diletakkan di sebelah utara, sehingga urutannya dari utara adalah ardapur, bale gede, lumbung. peletakkan dapur di sebelah utara ini diyakini sebagai penghormatan terhadap gunung Watukaru yang dimuliakan oleh komunitas masyarakat Wongaya Gede. adaptasi penghormatan dan konteks lingkungan menjadi penting disini, bukan sekedar menerapkan dogma yang telah disepakati secara luas di bali.

demikian juga penempatan holy place atau tempat pemujaan di pekarangan rumah. dengan berkembangnya lingkungan binaan di Bali tetapi luas lahan yang tetap menyebabkan kapling-kapling yang mereka gunakan semakin mengecil. hal ini tentu saja tidak bisa menerapkan konsep asta kosali-kosali dengan baik di lingkungan binaan mereka. apalagi yang fungsi dan bentuknya ruko. seringkali kita melihat holy place ditempatkan di atas atap, sebagai representasi kepatuhan mereka terhadap keyakinan yang mereka anut.

"balisme" hanya bisa di terapkan jika dan hanya jika pada saat kondisi 'itu", pada tempat "itu", pada bahan "itu" dan dengan kondisi dan syarat yang berlaku hanya di"situ". sangat kontekstual, yang sekarang tidak banyak praktisi yang mampu, mau dan sempat mengaplikasikannya. tergerus oleh jaman yang serba cepat dan instan. sehingga shortcutnya adalah bali harus ukiran, harus (sekedar) hijau, dll. nir konteks.

masjid rasa bali

dakwah bil ars 117 Comments »

jam di hape menunjukkan 16.38. ah, masih ada waktu untuk sholat ashar, pikir saya. segera saya bergegas mencari tempat untuk meletakkan dahi sebagai tanda tunduk dan pasrah kepada Dzat Penunduk. Ups...., saya lupa ini sedang di Tabanan Bali, berarti waktu setempat menunjukkan pukul 17.38 wita. waduh, dengan sangat bergegas saya mencari tambatan dahi.

susah juga mencari masjid, mushola atau sekedar surau disini. saya tanya kepada seorang penjual sate "banyuwangi". seorang wanita subur berjilbab menjawab diseberang patung kearah selatan, nanti ada masjid agung Tabanan Bali.

waktu terus merayap menyambangi waktu maghrib. tadi naek pesawat dari adisutjipto pukul 13.00 wib sampai bali harusnya pukul 14.00 karena waktu tempuh hanya 1 jam. tetapi sejak tahun 90-an bali berganti bagian waktu menjadi wita, sehingga selisih 1 jam lebih cepat dari waktu Jogja. sehingga sampai di Bali pukul 15.00 wita dan dengan perjalanan ke kantor di sanur sampailah pukul 15.48 wita, dan tanpa babibu langsung tancap ke Tabanan untuk mengejar waktu pemasangan alat pengukur thermal bangunan. saya mau menjama'nya di bandara, tetapi keyakinan saya tidak membolehkan sholat di jama' sepanjang masih di wilayah tempat saya tinggal.

dengan waktu yang sangat mepet dan saya sadar bahwa pahalanya mungkin hanya sebesar telur puyuh. demi waktu, tuhan ampunilah saya.

selepas menunaikan hajat melepas kerinduan kepada Dzat Rindu Sejati, saya menyempatkan diri untuk menikmati masjid di Bali. masjid ini tergolong besar dan mungkin paling besar di daerah Tabanan dan nomor dua besarnya di daerah Bali setelah masjid Sanur. di Bali tidak ada masjid Agung. masjid Tabanan ini warnyanya putih, dari lantai keramik, dinding sampai kubah sama warnanya, putih memplak. dinging, sangat kontras dengan bangunan sekitarnya, hunian dan pura-pura keluarga dan desa yang terkesan hangat dengan warna coklat terakota plus pulasan hijau lumut.

saya berandai-andai seandainya nabi Sulaiman berkenan meminjamkan jin Ifritnya untuk memindah masjid ini ke Jawa, barangkali masjid ini sangat cocok di Jawa, ada menaranya, warnanya putih dan kubah. (lihat vernakularisasi masjid kubah bawang http://prihatmaji.staff.uii.ac.id/2008/11/29/masjid-kubah-bawang/). saya merasa ada yang hilang ke-Baliannya. Bali sebagai konteks tempat dan spirit of place-nya.

masjid di Sanur, saya merasakan pemberontakan yang sopan. terbuka kesannya walaupun berpagar dengan satu pintu utama di timur dan pintu butulan (kecil di sisi samping) di selatan dan utara. warnyanya grey (polosan minimalis dengan kebenaran struktur beton, balok daerah lapangan lebih kecild ari pada daerah join). struktur rangkanya hanya melingkupi ruang utama, sedangkan didningnya tidak bercumbu dengan rangka uatam bangunan, seperti masjid di Golo Klaten (Sunana Pandanaran). struktur ini mengingatkan saya pada struktur bangunan bale gede, atau bale dangin atau bale dayoh di dusun Wongaya Gede, Tabanan.

terbuka adalah ciri bangunan Bali. strukturnya jelas memisahkan antara yang didukung dan yang mendukung. jernih dan melegakan ruangannya.

saya sudah ditunggu rekan-rekan untuk melanjutkan perjalanan ke dusun Wongaya Tabanan, dekat gunung watukaru.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in