atas nama keindahan

bangunan tradisi, budaya dan kita, jepang No Comments »

entah mengapa minggu ini ada beberapa rekan yang bermasalah dengan fusuma (ふすま : pintu geser penghubung antar ruang, berbahan kertas tebal atau kaca biasanya terdapat gambar atau lukisan alam).

ada yang pecah kacanya karena terlalu keras menutupnya, ada yang rusak kayu rangkanya sebab tergelincir saat membuka, retak kaca sebidang kecil dari belasan kaca yang bersusun secara kotak-kotak atau kaca pecah lantaran kena bola anak-anak yang bermain di dalam rumah.

"mas, tahu (orang/perusahaan) yang bisa memperbaiki pintu geser?"

begitu pertanyaan yang muncul beberapa hari ini.

***

pintu ini tidak bisa diperbaiki sebagian atau pada bagian yang pecah saja

harus keseluruhan

karena kaca hias yang terjepit diantara kerangka kayu langsing itu berkelindan warna dan motifnya

sehingga bila diganti sebagian akan kelihatan belang dengan tetangganya

maka, itu yang menjadikan mahal

apalagi pintu geser ini biasanya double

untuk sisi kiri dan kanan

mahal, memang mahal

ongkos perbaikan dan material 1 lembar pintu sekitar 50000 yen

bila kanan kiri ya tinggal kalikan 2

ya tinggal kalikan 100 (kurs 1 yen : 100 rupiah)

maka jadilah ongkos dalam rupiah

yang mahal ya ongkos tukang

namun jaminan indah

uji | katsura | imadegawa

Tradisi Bali Berarsitektur : Perubahan Bentuk dalam Keajegan Konstruksi

bangunan tradisi 3 Comments »

Arsitektur memuat unsur-unsur sistem budaya yang menyublim dalam wujud budaya. Arsitektur tradisional adalah faktor, proses, akibat dan produk dari sistem budaya yang selalu ajeg berubah. Arsitektur tradisional Bali amat terkait dengan sistem budayanya seperti unsur kepercayaan, pengetahuan, norma, aturan dan ketrampilan. Perubahan kebudayaan dimaknai sebagai proses pergeseran, berupa pengurangan atau penambahan unsur-unsur sistem budaya disebabkan penyesuaian dengan kondisi lingkungan dalam lingkup kepercayaan, pengetahuan dan keterampilan.

Bali, Tradisi dan Arsitektur akan dilihat keniscayaan perubahan kepercayaan, pengetahuan dan keterampilan yang berakibat pada produk budaya (arsitektur tradisional) Bali. Unsur pengetahuan mendapat porsi perubahan paling besar yang akan memperkaya tingkat adaptasi dan toleransi memproduk arsitektur. Kepercayaan yang mendogma mempunyai hijab-hijab keajegan yang mengendap merupakan unsur yang paling stabil. Keterampilan merupakan intersection masa lalu dan masa kini, mendapat tantangan ikut arus tetapi tidak hanyut arus perubahan budaya.

Konstruksi (arsitektur tradisional) adalah ujud keterampilan yang merupakan bagian dari tradisi berarsitektur (kayu dan batu). Konstruksi tradisional Bali cenderung membeku, walaupun terdapat transformasi yang bersifat skalatis dan visual semata. Dialektika bahan dan percumbuan konstruksi terlihat abai oleh derasnya arus visualisasi desain dan muntahan inovasi bahan-bahan baru. Dibutuhkan strategi konstruksi sebagai usaha pelestarian teknik konstruksi tradisional dalam budaya berasitektur yang selalu berubah dalam keajegan. Konstruksi adalah salah satu jalan berarsitektur, bukan hasil atau sekedar akibat dari arsitektur.

Keywords : Balinese Traditional Architecture, Wooden Construction, Reconstruction Strategy.

(disampaikan pada Semiloka Ajeg Bali : Modernitas dalam Tradisionalitas, Bedugul Bali, 27 Oktober 2009).

B3 & kuliah kayu

bangunan tradisi 208 Comments »

ternyata dinginnya Bedugul sangat berguna di sini. di Bedugul suhunya sampai 10 derajat selsius, gak beda jauh dengan disini yang sekarang sekitar 9 derajatan selsiusan. di Bedugul, dingin nan lembab. disini, dingin tapi kering. sama-sama anyes tapi rasanya beda dalam menusuk tulang. lebih sakit disini ternyata. maklum orang tropis,...

suasana pengujian struktur di Bandung, ternyata sangat berguna disini. karena setiap hari, tiada hari tanpa pengujian. baik pesanan perusahaan atau pengujian oleh mahasiswa pasca. dan, saya ikut 'menukang', yang menjadi keterampilan dasar mengoperasikan laboratorium kayu disini. tradisi tukang itu yang sebenarnya ingin saya asah...

pengalaman presentasi di Bogor dalam lingkup kecil, sehingga mat-matan, sangat berfungsi untuk memupuk mental disini. sekecil apapun paparan riset kita, disanggongi kata demi kata.

pumpunan pengalaman dan pengamalan di rentang B3 atau Bedugul Bandung dan Bogor, ternyata berhimpun padu disini, di Laboratory of Structural Function - RISH Kyoto University.

arsitektur kayu

bangunan tradisi, riset, kya-kya n muja No Comments »

setelah sekian lama saya browsing, searching, googling sampai pusing dan pening bin ngglinding, mencari seolah arsitektur kayu, saya hanya menemukan di finlandia, kunjungi http://arkkitehtuuri.tkk.fi/engl/woodprog/.

yang lain sekedar proyek dan sayembara atau sekedar ulasan bagaimana kayu mendesain arsitektur. atau masuk pada fakultas atau jurusan non arsitektur.

sekolah arsitektur jepang, saya coba jelajahi, tentu saya semampu saya. tak saya temukan tanda-tanda kehidupan bahkan sekedar jasad renik. sekolah arsitektur di jepang dipilah, menjadi berkutat pada desain (termasuk kajian urban architecture, science architecture dan digital arch) dan kajian struktural. kajian struktural hanya mengurusi desain berbasis baja dan beton semata. penggunaan kayu untuk berarsitektur tiada harapan. terus dimanakah mereka belajar kayu untuk berarsitektur? kalau melihat jelajah sejarah arsitektur kayu amat hebat, sehebat china. tapi kok gak ada sekolahnya?

ternyata mereka menginsert-kan kajian arsitektur dan kayu, lebih kepada muara dari hulu kayu ke hilir arsitektur. arsitektur hanya akibat bukan sebab. yang menjadi biang adalah kayu. so kayu dikaji dari Wood Anatomy, Wood Properties, Wood Quality Enhancement, Wood Constructions, Wood Composites, Wood Entomology and Preservation, Wood Chemistry, Non Wood Forest Products, Pulp and Papers, Wood Biomass Energy, Wood Biotechnology, Forestry Sciences. arsitektur kayu dikaji melalui wood construction, tidak sekedar desain.

jadi arsitektur kayu bukan menjadi ranah kajian engineering, tetapi ranah kajian agriculture atau forestry. di jepang seperti itu, dan di canada (univercity of brunswick) juga begitu.

ini menyulitkan saya untuk beradaptasi dengan penggiat-penggiat kayu di indonesia (lipi, fakultas kehutanan, dll), tetapi disini saya dapat bercengkerama dengan tukang-tukang kayu dari 'hutan' fakultas yang bukan engineering.

"jangan sembahyang di rumah, please"

bangunan tradisi, dakwah bil ars 113 Comments »

ada tiga jenis rumah di perkampungan suku sasak, di dusun sade - lombok tengah. satu, rumah bale bontar, yaitu tipe rumah bagi pendatang. luas rumah dan bentuk rumah hampir sama tetapi di rumah ini tidak ada perbedaan elevasi lantai dan terkesan blong-blongan tanpa tata ruang yang baku, dan mempunyai beranda depan. kedua, rumah bagi penduduk suku sasak asli. lantai dalam rumah berundak dua tingkat, memiliki dua karakter ruang yang berbeda di depan dan belakang, tetapi tak mempunyai teras. tipe rumah ini bernama bale gunung rate. tipe terakhir adalah bale kodong, atau rumah yang diperuntukkan bagi orang-orang tua. rumahnya kecil, hanya cukup untuk tidur saja. seperti cungkup kalau di jawa. karena orang tua terbatas akses dan mobilisasinya, maka bentuk dan ukuran rumah ini cukup sesuai tetapi kurang layak dari aspek kenyaman dan budaya "hormat orang tua".

di rumah bale gunung rate, tata ruang rumah dibagi menjadi dua. bagian depan untuk menerima tamu "saudara" dan tempat tidur bagi pria penghuni rumah. bagian belakang sebagai dapur dan tempat tidur bagi perempuan penghuni rumah. menerima tamu biasa dilakukan di berugak sekempat yang ditempatkan di depan rumah.

kemaren kami diterima di berugak sekenam dusun (bale dengan enam sake) yang berda di depan dusun. kemudian kami diterima oleh rumah keluarga di bale lumbung, yang kebetulan diletakkan di depan rumah. biasanya jarang tamu ditempatkan di lumbung, tapi karena kami ingin cepat berdaptasi maka jadilah kami berhaha hihi di lumbung sebelum masuk ke rumah induk.

sekarang tidak banyak rumah yang melestarikan bentuk lama rumah mereka, terutama keberadaan bukaan. dulu, aslinya memang tidak ada bukaan di rumah mereka. sekarang karena kebutuhan dan tren, maka dibuatlah bukaan disisi kanan dan kiri pintu masuk. pintu masuk ini juga berubah, dari pintu yang berbentuk sorong dnegan bahan bambu anyam menjadi pintu 'swing' kayu. jendela ada berbentuk jendela kayu yang bisa dibuka keatas atau kesamping, dan ada juga yang ebrbentuk kaca mati atau nako. dulu bentuk jendela hanya berupa jalusi yang ditutup kain atau bidang anyaman bambu.

pelestarian yang lain adalah soal tradisi mengepel lantai. lantai rumah bale gunung rate menggunakan tanah liat yang dicampur dengan sekam padi plus kotoran sapi. liat, kuat, keras saat kering dan halus nan mengkilap. setiap 2-3 bualn sekali untuk menjaga keausan lantai akibta injakan kaki atau gesekan dengan barang, maka lanatai dipel. bukan dengan air plus deterjen yang membuatnya lengket dan berantakan atau 'mbradul-mbradul', melainkan menggunakan hahan dasarnya, yaitu tanah liat lembek dan tahi sapi. tanah liat yang 'nyemek' laksana bubur bayi (airnya tidak terlihat) dicampur tahi sapi sebagai hardener dan pengkilapnya. adonan dioleskan di lantai sampai rata dan dibiarkan mengering 12 jam. katanya penghuni rumah, nyamuk, serangga, kecoa dan tikus menyingkir karena ritual melantai ini. tahi sapi sifatnya pedas dan keras menghalau binatang-binatang tersebut. ruapnya menyesakkan mata dan memedaskan hidung (terbalik ya..)

jam menunjukkan pukul 18.30 wit, kok adzan magrib belum dikumandangkan? tanyaku dalam hati. katanya masjid ada disebelah rumah yang kami tempati. atau karena listrik mati ya, atau tradisi berteriak-teriak dilarang didusun ini. ya, sudahlah ambil air wudhu dulu dan berniat sholat di rumah aja.

segeralah ambil air wudhu dari 'padasan' sade. sajadah digelar di lantai setelah sebelumnya mencari arah kiblat dnegan kompas dijital. tangan sudah terangkat mengiringi takbirotul ikhrom, baru sadar upssss.... lantai ini kan dilapisi oleh 'lapisan pengkilap tradisional'. waduh, urung niat saya sembayang dirumah. saya ajak makmum saya pindah ke masjid yang tanpa kumandang adzan. di masjid juga sepi, mungkin mereka sudah selesai sholat berjamah batinku berhuznudhon.
barangkali ini merupakan kearifan lokal 'memaksa' umat tidak sholat sendirian apalagi dirumah.

seluruh lantai rumah tidak syah untuk alas sembahyang. jangan sembahyang di rumah, please, karena sholat harus di masjid. hebat strategi leluhur orang sasak ini.

niang todo - niang mbowang : sketsa batu

bangunan tradisi 111 Comments »

niang itu berarti rumah. niang todo bermakna rumah (kerajaan) orang todo atau niang mbowang yang bertafsir rumah leluhur atau yang dileluhurkan.

dulu belum ada budaya tulis berupa kertas dan alat tulis. untuk menskemakan rencana bangunan niang, nenek moyang todo menggoreskannya di tanah. goresannya menggunakan batu yang banyak terserak di bukit ini. jadilah gambaran potongan niang todo yang berouncak pada sebuah beringin tua. bila diamati dari atas, niang todo ini mempunyai bayangan berupa skema potongan dari gugusan batu. primitif namun indah.

menyusuri pedestrian batu pecah susun, kita akan melewati batu palang berjumlah 3 buah. batu palang ini adalah batu pipih yang dipasang tegak melintang dikubur di tanah, dan hanya menyembul 5 - 10 senti. batu palang pertama di pasang di pertengahan pedestrian, level dua dari beringin "puncak". batu ini sebagai simbol buang sial bagi yang melakukan upacara melangkahinya. batu palang kedua dipasang disebelah kiri, untuk warga todo yang menikah dengan orang luar todo. sebagai simbol meninggalkan budaya asal dan mengikuti budaya todo secara sepenuhnya. batu palang ketiga dipasang atau terpasang di depan pintu niang todo. batu ini paling besar dan konon, batu ini ada sebelum niang todo didirikan. artinya batu ini sebagai starting point untuk mendesain niang todo sebagai pintu masuknya. batu ini menyimbolkan sebelum masuk ke niang mbowang, harus melepas niat buruk dan menyisakan niat baik saja.

dibawah batu palang ini diletakkan peti mati, sebagai pertanda keburukan akan ditinggal dan mati, serta ke dalam rumah hanya membawa kebaikan. konon, pernah seorang turis jerman kecewa jauh-jauh datang ke todo hanya melihat kehidupan "primitif' dan mengeluarkan hinaan atas niang todo. sang turis masuk niang todo melewati batu palang dengan masih mengerutu. entah mengapa si turis terjungkal setelah menyentuh peti mati itu, mulutnya berdarah dan kakinya bengkak.

todo

bangunan tradisi 143 Comments »

dikarenakan tidak setiap hari ada pesawat ke ruteng, maka saya berangkat malam pukul 20.00 wib dengan garuda (bukan didadaku) dari jogja transit di bali satu malam. menginap (lagi) di hotel ramayana (sanur). sampai di bali pukul 22.00 wit dan mulailah merasa aneh dengan waktu, padahal besok pagi-pagi di jemput pukul 06.00 wit (yang berarti 05.00 wib). ngobrol dengan teman lama, eh kok malah menjurus ke hal-hal ideologis. maksud hati ingin ngobrol ringan malah terjebak hil-hil yang berat dan kontraproduktif. untung bisa saling mengalah dan akhirnya pukul 01.00 wit pamit menemui sang malam.

pagi jam 05 wit (04 wib) bangun, berkemas, sarapan ala bule dan siap berpetualang ke ntt. sampai bandara jam 07 wit, menunggu sebentar dan take off menggunakan sriwijaya air jam 08.15 wit. hebat orang-orang melayu ini membangkitkan kejayaan kerajaan sriwijaya dengan menjelajah nusantara menggunakan pesawat. lima tahun untuk menjamah sumatera, limabelas tahun untuk sumatera+jawa+malesia dan duapuluh tahun untuk menjelajah go asia. saya bayangkan ada Majapahit Air atau Mataram Air atau Singasari Air atau Ratu Boko Air.

setelah satu jam kurang lebih mendaratlah pesawat ini di bandara labuhan bajo ntt, setelah melewati di atas pulau-pulau tak berpenghuni nan indah. kami berlima dijemput dua mobil plat L yang membawa kami membelah kabupaten manggarai dari ujung barat ke bagian tengah. panas, berdebu dan gersang. persis yang kami bayangkan merujuk pelajaran geografi semasa di smp dulu tentang ntt. saya tinggal tidur perjalanan selama satu jam ini, karena perkiraan saya tidak ada yang menarik untuk diamati sepanjang perjalanan. mobil berhenti di rumah makan. panasnya euy.. kok ya atapnya seng lho. udah tau panas malah beratap metal. huhhh. iseng-iseng kami ukur suhu permukaan seng dengan thermal infra red, uihhh 42 derajat selsius. dinding 33, lantai 29 dan tubuh 36. alat ini bisa mengukur suhu permukaan material dari infra red yang ditembakkan pada benda padat ataupun cair. saya bayangkan bila badan ini terkena air (wudlu)... mak nyess begitu. maka sholatlah kami, kebetulan pemilik restoran bertuhan yang saya dengan kami.

setelah itu, dilanjutkanlah perjalanan ini (seperti lagunya ebiet gad). ternyata satu jam lalu adalah "makanan pembuka" bagi perjalanan menembus hutan. mulailah jalan naik turun mengocok perut. pertanyaannya hanya satu :"masih lama, pak?" dengan harapan jawabannya "o, tinggal didepan itu". ternyata perjalanan yang ditempuh empat jam, dan ini baru satu setengah jam. kami tinggal tidur, gagal. kami alihkan dengan ngobrol, kok ya perut ini gak bisa di tipu ya. akhirnya kami istirahat di hutan yang panas barang sebentar dan perjalanan di lanjutkan. entah karena lelah fisik dan mental, kamipun tertidur. kami menyeberangi hutan belantara, naek turun menembus jalan seban, bukan setapak mobil (katanya, lha wong kami tidur).

pukul 17.00 wit kami dibangunkan oleh sopir sampai di hotel. kami turun, tapi lho kok dingin kayak di kaliurang aja, apa gak salah ni, ntt atau di....tapi ruteng memang dingin, altimeter menunjukkan ketinggian ratusan hampir seribu. kami masuk kamar merebahkan badan sambil ngopi ruteng. malam datang dan semakin dingin melebihi batu malang. kamipun mencari penghangat perut. masakan padang, sate banyuwangi dan restoran. wah kok kaya di jawa aja. kahirnya kami memilih restoran universal untuk menjamin perut kami tidak bergejolak dan bersahabat untuk hari esok yang berat. malam itu istimewa, karena kami makan dengan ditemani cahaya lilin. wah... bukan candle light dinner, ini pas giliran mati, oglangan kata orang solo. kenyang, kami pulang dan pulas.

jam 7 pagi stelah sarapan, kami beranjak ke todo. sebuah perkampungan tradisional atau perkampungan primitif bekas kerajaan todo, salah satu yang terbesar di manggarai, ntt. perjalanan satu jam "satu arah", karena saya tidak bisa membayangkan bila mobil kami berpapasan dnegan mobil atau truk lain dari arah berlawanan, pasti repot dan .... duh kanan tebing dan kiri jurang. puji tuhan, saju jam lebih sedikit kami sampai di pintu gerbang "obyek wisata" todo. kami disambut petugas berseragam warga setempat dan disuguhi minum susu sebelum kami masuk ke perkampungan.

setelah berhaha-hihi dan pemuka adat dihubungi, kami bertamu resmi dan diterima di niang mbowang atau niang todo. kami melewati pedestrian batu, naik altar yang ada meriam bekas pertempuran dengan belanda dulu. sakral dan magis kami rasakan, huhhh.. untuk siang hari. untuk malam hari tanpa lampu, wah nanti dulu. kami harus menunduk untuk masuk rumah (niang) mbowang ini. seorang tua ditemani beberapa wanita penghuni rumah menerima kami. setelah menyatakan maksud kami, merekapun menyatakan penerimaan terhadap tamu. upacara penerimaan tamu dengan upacara makan sirih pinang dan minum tuak. tuak, waduh... tapi untunglah, ini hanya seremonial aja. dan sebagai gantinya tuak kami kembalikan beserta "oleh-oleh" dari bali. setelah itu berangsur-angsur suasana mencekam menjadi hangat ceria menggunakan bahasa nasional bahasa indonesia. disini kami merasakan kehebatan bahasa indonesia itu, bahasa pemersatu. kami berlima. dua dari jawa, satu dari sunda, dan dua lagi dari bali. kami bisa bersahut paham dengan saudara di todo dengan bahasa indonesia.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Packaged by Edublogs - education blogs.
Entries RSS Comments RSS Log in