bersahabat dengan bencana di Honjo Bosaikan

arsitek(tur) tanggap bencana, budaya dan kita No Comments »

Seperti bangunan moderen lain di Jepang, bangunan ini terkesa ‘dingin’ dengan dinding yang dibalut keramik warna abu-abu tua, polos dan sedikit bukaan. Bagian main entrance-nya pun hanya sekedar ditandai dengan penonjolan kanopi dengan bentuk prisma terpancung. Namun siapa sangka didalam bangunan ini, kita bisa belajar banyak tentang bencana alam dan non alam serta antisipasinya.

Ah, jadi teringat jargon learning from today’s disasters for tomorrow hazards, belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman hari esok. Sesuai dengan kampanye reduksi bencana melalui United Nations-International Strategy for Disaster Reduction atau UN-ISDR yang digaungkan sejak Oktober 2004.

Belajar dari pengalaman masa lalu adalah tidak mudah, apalagi kejadian pada waktu silam tersebut adalah musibah yang meninggalkan luka mendalam. Dibutuhkan strategi dan metode belajar khusus untuk belajar hal ini. Salah satunya dengan pengalihan obyek belajar menjadi subyek belajar, belajar dengan permainan - bermain untuk belajar, sehingga proses pembelajaran merupakan saat yang menyenangkan untuk dilakukan.

Dasar pemikiran pendirian Bosaikan berawal dari The Great Hanshin-Awaji Earthquake yang datang tiba-tiba dan meluluhlantakan semua yang telah dibangun masyarakat Jepang. Seiring dengan bergulirnya waktu, pengalaman malapetaka tersebut semakin pudar dalam ingatan masyarakat Jepang. Tetapi mereka sadar bahwa dalam keadaan tenang, sangatlah penting mengadakan persiapan dengan baik untuk menghadapi bencana esok, agar kemungkinan untuk menyelamatkan masyarakat mereka lebih besar.

Bosaikan di Tokyo berjumlah tiga buah, dan masing-masing tempat memiliki spesifikasi unggulan pembelajaran bencana yang berbeda. Yang pertama adalah Ikebukuro Bosaikan, terletak di Nishi-Ikebukuro, Toshimaku Tokyo, yang dibuka pada tanggal 9 November 1986. Yang kedua, Tachikawa Bosa Kan, berlokasi di Izumi-cho, Tachikawa-shi, Tokyo, yang beropersai sejak 26 April 1992. Dan yang ketiga adalah Honjo Bosaikan, terletak di Yokokawa, Sumida-ku, Tokyo, yang digunakan sejak 27 April 1995.

Sebagai Bosaikan yang terakhir dibangun, Honjo Bosaikan memiliki keunggulan sendiri dibanding bangunan terdahulu, yaitu disini terdapat simulasi hujan badai, simulasi gempa, demonstrasi likuifaksi, ruang penyebaran asap kebakaran, pengetahuan ancaman bencana yang terjadi di rumah dan perpustakaan yang sering terjadi, serta database berbagai bencana. Dengan luas bangunan 2.786 m2 dan total luas lantai 15.622 m2 yang terhimpun dalam bangunan 6 lantai dengan 2 basemen, Honjo Bosaikan ini mampu menampung aktifitas pembelajaran tentang bencana secara interaktif.

Masuk ke lantai 1 bangunan melalui pintu geser ganda khas Jepang, kita mendaftar di hall (lobby) untuk mendapatkan training card, semacam tiket yang nanti digunakan untuk overview semua jenis pelatihan dalam pada 6 layar interaktif bentuk game setelah selesai pelatihan. Pula tersedia sistem tanya jawab yang juga tergelar yang lain, yang akan menjawab semua pertanyaan tentang karakter bencana dan teknologi penanggulangan bencana. Disini kita dapat melihat segala hal yang terdapat di Bosaikan melalui 5 layar interaktif (interactive touch screen) dengan sistem game. Semuanya mudah dan menyenangkan kita gunakan, bahkan oleh anak-anak.

Pembelajaran diawali di ruang simulasi gempa. Pengunjung diajarkan cara-cara penyelamatan diri, dikenalkan alat-alat pelindung seperti tudung saji untuk pelindung kepala, alat komunikasi dengan baterai sistem engkel (saat bencana listrik padam sehingga perlu enerji lain). Setelah itu, pengunjung dipersilahkan masuk ke ruang khusus dengan dekorasi pantry dan ruang makan. Kita diminta untuk memperagakan bagaimana kita menyiapkan makanan. Kemudian tanpa disadari ruangan bergetar halus sampai bergetar hebat. Barang-barang terpelanting dan pengunjung mencari keseimbangan, sungguh susah membedakan suasana simulasi atau gempa sungguhan. Kita diajarkan prioritas penyelamatan, pertama matikan kompor karena kalau jatuh dapat meledak dan timbul kebakaran yang akan memperparah keadaan. Kedua, berlindung dibawah meja dengan pelindung kepala sewaktu gempa berlangsung. Ketiga, segeralah keluar mencari ruang terbuka ketika gempa mereda sebelum terjadi gempa susulan.

Di lantai 2 juga terdapat ruang perambatan asap. Di ruang likuifaksi pengunjung dapat merasakan terjebak asap pada musibah kebakaran dengan. Bagaimana sesaknya asap dan suasana yang gelap, karena bisanaya listrik padam ketika terjadi kebakaran. Dengan meraba dan menelusuri permukaan dinding serta melihat tanda pintu keluar yang samar, pengunjung diajak mengalami suasana kebakaran yang sesungguhnya. Sebelum memasuki ruang ini, kita disambut di koridor yang menggelar berbagai pengetahuan tentang kebakaran. Dari faktor pemicu kebakaran, perilaku asap dan api, perilaku manusia pada saat kebakaran, cara evakuasi, sampai kepada cara menggunakan peralatan pemadam.

Kemudian pengunjung diajak belajar mengetahui alat dan cara memadamkan api kebakaran. Diruangan disediakan layar lebar untuk simulasi peristiwa kebakaran, alat pemadam kebakaran (fire extinguisher) besar dan kecil. Kita diminta memadamkan api dengan menyemprotkan air ke layar lebar ketika di layar lebar tersebut muncul kebakaran. Air dari alat pemadam harus kita semprotkan sampai habis. Kalau kita “beruntung” api akan padam, tetapi kalau tidak api akan semakin besar dan meluluhlantakan bangunan di depan kita. Keberhasilan ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran teknik pemadaman, yang diutamakan disini adalah permainan, berhasil atau tidak bukan sesuatu yang penting. Hal ini disebabkan kebakaran di layar sudah diskenario, apakah api akan membesar atau padam.

Di ruang lain pada lantai yang sama pengunjung diajak mempelajari cara-cara penyelamatan orang melalui pernafasan buatan. Bagaimana cara memperlakukan penderita, meniupkan udara dan perawatan setelah penderita siuman. Disini, penderita digantikan dengan boneka atau manekin yang sangat mirip dengan manusia. Indikasi pertolongan kita seandainya usaha pernafasan buatan berhasil adalah manekin akan bersendawa, sehingga kita tahu pasti udara yang kita tiupkan masuk atau tidak kerongga dada penderita.

Di ruang audio visual di lantai 4, kita disuguhi film dokumenter peristiwa gempa yang sering terjadi di Jepang. Film berdurasi 30 menit ini diawali dengan kegiatan masyarakat Jepang di rumah, kantor, supermarket, dan di jalan baik. Kemudian datanglah bencana gempa yang tanpa diduga, yang mengagetkan seluruh masyarakat. Bagaimana suasana kepanikan masyarakat, jerit tangis bayi, orang yang terinjak-injak karena berlarian menyelamatkan diri digambarkan dengan jelas. Apalagi film ini adalah film 3 dimensi, sehingga gambaran kehebohan suasana gempa sangat terasa di mata pengunjung yang menggunakan kacamata khusus. Bahkan, kursi tempat kita duduk dilengkapi dengan vibrator yang memberikan artikulasi pada saat tertentu sesuai dengan kejadian pada film. Disini pengunjung diajak untuk merasakan kejadian seungguhnya, memahami bencana dan belajar cara-cara menyelamatkan diri secara efektif dan kolektif.

Sayang, kami tidak sempat belajar di ruang simulasi hujan badai, karena waktu kunjungan terbatas dan kami tidak membawa pakaian ganti. Di ruang ini kita akan diberikan pengalaman hujan badai seperti sungguhan. Pada lantai 3 ini juga terdapat pembelajaran tentang bencana banjir antara lain ruang likuifaksi yang menggambarkan proses air merambah naik kedaratan.

Setelah melewati proses pembelajaran musibah untuk mencari hikmah yang terkandung, kita dianjurkan untuk menghampiri anjungan tanya jawab untuk mencoba pengetahuan kita terhadap pelajaran yang telah kita lalui tadi. Sebuah metode pembelajaran yang menarik, apalagi untuk mempelajari bencana. Bagaimana sebuah kepahitan disajikan dalam bentuk ringan, segar dan menyenangkan untuk dipelajari. Terlihat banyak anak-anak mengunjungi tempat ini, mungkin karena tertarik dengan alat permainannya.

Apapun alasannya Bosaikan telah berhasil menumbuhkan minat orang dewasa dan anak untuk belajar. Sebuah tempat papan ajar (places for learning) untuk belajar bencana, yang memberikan ruang untuk merasakan pengalaman bagaimana bencana terjadi dan mengantisipasinya. Diharapkan dari pengetahuan dan pengalaman ini, pengunjung dapat mengamalkan di kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia kanak-kanak. Dengan rutin sekolah-sekolah di Jepang atau Tokyo khususnya menjadwalkan kunjungan ke tempat ini. Sebuah usaha untuk mengenalkan bencana dan pencegahannya sejak dini pada anak-anak. Anak-anak dibiasakan bersinggungan dengan bencana yang tak terduga dan mengerti cara menyelamatkan diri.

Ketika pemerintah Indonesia akan berniat membuat monumen bencana gempa dan tsunami di Aceh, dan Museum Gempa di Yogyakarta seyogyanya monumen atau apapun bentuknya bukan sekedar memberi peringatan. Akan tetapi lebih kepada memberikan ruang pada masyarakat untuk belajar dan menyadari bencana yang telah lalu untuk menghadapi ancaman untuk hari esok.

bangunan ramah gempa

arsitek(tur) tanggap bencana, dakwah bil ars 300 Comments »

belum kering air mata ini menahan derita korban gempa di sukabumi, sudah disusul gempa di padang kemaren 30/9 dan dihunjam pilu hati ini gempa di jambi 1/10. kelu rasanya lidah ini untuk berucap menyaksikan bumi menggeliat mencari keseimbangan lempeng.

teringat 3 tahun yang lalu, pagi pukul 05.53 wib sabtu 26 mei 2006. bagaimana paniknya keluar dari rumah yang bergoyang berderak sambil menggamit 3 balita. karena sabtu libur sebagai konsekuensi 5 hari kerja dan sekolah, maka sehabis sholat subuh, kami pun rebahan nonton tv di lantai dua dan terlelap kembali.

suara berderak itu datang, semakin lama semakin keras, seperti ribuan tikus merayap diatap rumah kami. kok, lemari juga ikut berderak-derak. ooo.. gempa, saya meraih anak yang paling kecil 1 tahun, kemudian membangunkan dua anak lainnya 4 dan 6 tahun. maksud hati mau keluar rumah dengan turun kelantai satu dan keluar. rumah kami rumah panggung ketinggian dari lantai dua sampai ke tanah 3.5 m. setelah melihat tangga yang ikut bergoyang, kami urungkan keluar rumah dan bertahan merasakan getaran gempa yang mengoyang lantai papan kayu rumah kami.

akhirnya gempa mereda, dan diikutin gempa susulan yang lebih lemah. kami masih merasa masih goyang, seperti 'tomtomen', atau seakan-akan masih gempa. maklum gempa pagi itu lumayan lama sekitar 58 detikan. dan kami bisa keluar rumah melalui pintu depan yang kami kunci dengan dua palang kayu.

spontan kami berlari ke lapangan yang berada di depan rumah untuk melihat keutara, menengok siluet segitiga hitam berdiri tegak yang mengepulkan asap hitam bercampur putih menjulang. ya, merapi gunung paling aktif di dunia sedang terbatuk setelah 'diograk-ograk' lindu.

dua bulan itu, kami difokuskan kepada perilaku gunung merapi yang bergejolak. dan tuhan tidak mau ditebak, maka bencana datang dari sebelah selatan, bukan dari arah utara sepeti perkiraan orang banyak, para ahli dan komentator. katanya, kepala naga di utara sudah dipegang mbah maridjan, tetapi ekornya menggeliat di sebelah selatan, maka bumi-pun bergoyang mengikuti sesar opak, sepanjang parangtritis, imogiri, piyungan dan klaten.

*****

saat membangun rumah kami, kami berkesempatan mengawasi dan mengamati bata demi bata disusun, batang besi demi batang dijalin. hal ini mengakibatkan kecermatand alam pengerjaan, walaupun waktunya relatif lebih lama. maklum, karena dana kami tidak tak terbatas. mencicil semeter demi semeter batu tersusun menjadi tempat bernaung.

banyak tamu yang berkunjung ke rumah kami 'bersaksi' bahwa rumah kami tahan gempa, setelah melihat visual balok dan kolom yang kami ekspos. kami hanya mengamini. banyak orang yang bersua di jalan sekedar mampir menyatakan bentuk rumah kami kuat dan kokoh. kami-pun mengamini. dan semua mahasiswa yang kami undang untuk sekedar open house ketika rumah kami tempati senyampang buka puasa tahun lalu bertanya " rumah ini dihitung tahan gempa ya". kamipun menggangguk bukan setuju, tetapi lebih banyak berharap pertanyaan itu sebagai sebuah doa.

ketika rumah kami berderak, tidak pernah terbayangkan rumah kami tanggap gempa apalagi tahan gempa. hitungan struktur oleh rekan sipil kami, tiadalah kami ingat. atau bagaimana cerewetnya kami terhadap tukang ketika memasang sengkang atau begel pada sambungan balok dan kolom, tidak terbekas. atau lamanya membuat hak antara tulangan balok masuk ke tulangan kolom, tidakpun kami anggap. atau bagaimana kami memelototi campuran atau adonan beton oleh tukang, tidaklah kami 'reken'.

sungguh, ketika rumah kami seperti dilalui himpunan landak hutan sehingga berderak-derak, yang ada dibenak kami hanya 'kerahmanan dan kerahiman' tuhan semata. hanya kasih dan sayang tuhan saja yang menyelematkan kami dan rumah kami. tuhan juga ingin kami tidak dihinggapi rasa malu tujuh turunan, ketika tuhan akan mengijinkan rumah kami rusak berat atau roboh kanrena gempa 5.8 SR itu. lha wong arsitek dan dosen struktur lagi, rumahnya kok 'keok' oleh lindu yang hanya semenit itu. apa kata dunia?

ah, gak urusan dengan dunia. saya hanya terbayang bagaimana kaisan rejeki yang saya dapat untuk membangun rumah ini. kalaulah rumah saya diijinkan rusak karena gempa itu, saya yakin karena Alloh ta'ala berkenan membersihkan kaisan rejeki yang saya tempel susun menjadi rumah ini. saya tidak sedang membicarakan rumah-rumah yang lain, justru karena ini rumah sendiri maka saya berani 'ngudarasa' tentang merumah ini.

rumah ketika digoncang gempa itu seperti kalau kita muntah-muntah mabuk darat naik mobil naik turun bukit berkelak-kelok. tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali memuntahkan segala isi perut kita. kalau kita bertahan, kerongkongan dan lambung kita malah tambah sakit. kalau kita berani, maka kita berhentikan aja mobil dan kita istirahat dulu. tapi gempa tidak bisa didatangkan atau disuruh berhenti. yang bisa kita lakukan hanya pasrah dan kepasrahan itu membuat kita enteng dan lega pasca muntah.

bangunan yang hebat, bukan yang tahan terhadap gempa. karena ketahanan itu ada batasnya. bangunan yang hebat adalah bangunan yang bukan hanya tanggap gempa tetapi ramah terhadap gempa. seperti orang muntah tadi yang naik mobil. ketika mobil kekiri, kita ikut kekiri dan jangan coba menahannya. ketika mobil mengoleng kekanan, kita ikut kekanan. taat, tunduk patuh dan pasrah setelah kita berusaha menghitung, mendesain dan membangun bangunan kita.

*****

ketika gempa menyapa, saya tertunduk malu kepongahan akan kepastian hitungan ketahanan gempa bangunan yang saya bangun. saat gempa mengalun, seluruh sendi logika saya akan kestabilan dan kehandalan struktur bangunan menjadi kelu. malu dan kelu adalah tanda kepasrahan, yang daripadanya saya berharap kasih sayang tuhan berkenan mengijinkan bangunan-bangunan yang saya rancang tetap tegak santun menghamba pada fungsi kemanusiaannya.

Hunian Sementara Pascagempa

arsitek(tur) tanggap bencana 91 Comments »

Bantuan untuk masyarakat korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah seperti gelombang datang silih berganti, baik berupa makanan, obat, pakaian, penerangan, peralatan rumah tangga, maupun tempat naungan sementara di tenda. Di antara bantuan tersebut mungkin hanya temporary shelter, hunian sementara, yang memerlukan pemikiran lebih serius.

Saat ini warga yang kehilangan rumah tinggal di barak pengungsian baik berkelompok maupun individu membikin “bedeng” di sekitar rumahnya atau membangun tenda di jalan-jalan kampung dan bahkan di area kuburan.

Bagi mereka yang rumahnya rata dengan tanah dan tidak mempunyai lahan memilih berkelompok di barak pengungsian atau membuat tenda bersama tetangga yang senasib. Bagi warga yang rumahnya tidak layak huni tetapi masih mempunyai lahan kosong membuat tenda di area itu. Bagi warga yang bagian rumahnya masih memungkinkan dihuni membuat tenda di emperan rumah karena masih trauma (Jawa: tomtomen) dengan gempa yang lalu. Warga yang kurang beruntung seperti keadaan di atas harus membangun hunian sementara mereka di area kosong seperti jalan- jalan kampung atau tegalan atau bahkan area makam.

Ada kecenderungan, warga enggan masuk ke rumah mereka walau secara teknis bangunan mereka layak huni. Selain itu, warga cenderung ingin “menunggui” atau dekat dengan rumahnya walau sudah rata dengan tanah. Ini mungkin sesuai falsafah Jawa sedumuk bathuk senyari bumi.

Keberadaan hunian sementara dibutuhkan ketika masyarakat belum mempunyai lahan yang siap bangun dan biaya. Meski begitu waktu huni untuk temporary shelter pun harus dibatasi, misalnya dua, tiga, atau empat bulan sambil menunggu pembangunan rumah permanen dan wajib memerhatikan beberapa pertimbangan terkait dengan kondisi pascagempa.

Pertama, shelter ini harus dapat disediakan secara cepat dan massal, murah, dan mudah dipasang. Kecepatan dan dapat diproduksi massal menjadi syarat untuk memenuhi emergency response. Murah dalam arti dapat diadakan oleh pemerintah maupun warga sendiri. Mudah dalam pemasangan dan bahan mudah didapat disebabkan terbatasnya tenaga dan keterampilan warga atau relawan.

Kedua, aman atau tahan gempa. Ini sehubungan masih adanya gempa susulan atau angin kencang yang menyertai hujan. Keamanan konstruksi juga dapat dipengaruhi oleh pemilihan bentuk, sistem struktur, dan bahan hunian sementara. Ketika terjadi gempa, hunian sementara dapat tahan terhadap guncangan gempa, atau bila bangunan roboh (materialnya) tidak membahayakan penghuni, misalnya menggunakan bahan-bahan yang ringan (tripleks, seng, dan lain-lain).

Ketiga, harus memenuhi faktor kesehatan, karena dalam kondisi sekarang (pascabencana dan musim hujan) sangat berpotensi menimbulkan masalah-masalah baru seperti penyakit flu dan muntaber. Ini didapat dengan meninggikan bangunan, memperlebar tritisan, dan lain-lain. Selain itu, pencahayaan dan penghawaan di dalam bangunan juga harus memadai.

Keempat, faktor psikologis warga yang masih trauma terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan getaran atau suara gemuruh (gempa). Untuk itu, bangunan secara teknis harus tahan gempa atau dapat meredam getaran yang diakibatkan gempa atau kendaraan yang melintas.

Kelima, yang tak kalah pentingnya adalah faktor perilaku dan adat kebiasaan masyarakat setempat. Kecenderungan warga yang ingin selalu dekat dengan rumahnya walaupun sudah roboh menjadikan hunian sementara harus fleksibel dengan ukuran lahan yang tersedia. Ketika dua kepala keluarga atau lebih menginginkan bergabung menjadi satu bangunan, hunian sementara juga harus dapat meresponsnya dengan baik. Fleksibel

Kelompok dalam masyarakat, misalnya Dasa Wisma, Pokja, atau lainnya, dapat dimanfaatkan untuk membentuk cluster hunian sementara. Ini untuk menyederhanakan penyediaan hunian sementara dan distribusi bantuan.

Dengan kata lain, modul hunian sementara bersifat fleksibel dengan ukuran lahan mempertimbangkan ketersediaan bahan bangunan, dan dapat dibongkar seluruh atau sebagian bahannya yang dapat digunakan untuk membangun hunian permanen.

Ketersediaan pilihan-pilihan desain hunian sementara mendesak untuk diadakan. Institusi pemerintah, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Jurusan Arsitektur, LSM, dan lembaga-lembaga lain yang bergerak di bidang shelter diharapkan berpartisipasi menyediakan desain dan model hunian sementara yang layak, sehat, terjangkau, dan sesuai budaya lokal.

Wilayah Kota Yogyakarta mempunyai lebih kurang 2.500 rukun tetangga (RT), masing-masing RT memiliki rata-rata 40 kepala keluarga (KK). Dari 40 KK ini, taruhlah 20 persen kehilangan rumah, berarti harus disediakan delapan unit modul hunian sementara setiap RT. Artinya, Kota Yogyakarta membutuhkan 20.000 unit modul hunian sementara untuk warga yang kehilangan rumah. Belum lagi kebutuhan hunian sementara di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan wilayah Jawa Tengah lainnya.

Wilayah yang membutuhkan hunian sementara terlampau luas kalau hanya menggunakan satu jenis model hunian sementara. Ketersediaan pilihan desain dan model mutlak diperlukan. Biarlah masyarakat yang menentukan dan membangun hunian sementara, dibantu para relawan. Lembaga-lembaga di atas hanya penyedia dan pendamping kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat tidak kehilangan perannya dalam menciptakan lingkungan binaannya, walau hanya sementara.

Hal ini untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk beraktivitas yang sempat redup pascagempa. Yang lebih penting lagi adalah kepastian berapa lama hunian sementara ini akan digunakan karena daya tahan hunian sementara dan masyarakat penggunanya tidak tak terbatas.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Rabu 7 Juni 2006)

Yulianto P Prihatmaji
Jogjateng Archquick Response
LBA UII Yogyakarta

Bangunan Tanggap Gempa

arsitek(tur) tanggap bencana 455 Comments »

Sengaja judul tulisan ini adalah bangunan tanggap gempa, earthquake response building bukan bangunan tahan gempa, earthquake resistant building. Walaupun sekilas tampak sama, tetapi ada beberapa prinsip dan perspektif yang membedakan keduanya.

Kata tahan lebih dimaknai bahwa sebuah bangunan dan alam sekitar merupakan dua entitas yang berbeda. Ketika sang alam “berulah” dan menyinggung si bangunan, yang ada adalah menang atau kalah. Tidak ada dialog di antara keduanya, yang ada persiapan, berhadapan, hidup atau mati, bangunan roboh atau tetap berdiri. Maaf, mungkin ini terlalu berlebihan.

Secara harfiah, kata tanggap berarti peduli, nguwongke atau bagaimana satu pihak ngaruhke kepada pihak lain. Di sini tercipta dialog-dialog, interaksi antara bangunan dan alam di mana bangunan itu didirikan. Diharapkan dari dialog ini ada kesepahaman antara keduanya, sehingga dapat saling berdampingan dan bersahabat.

Sekarang masyarakat sedikit demi sedikit telah melek atau peduli bagaimana membangun bangunan yang “peduli gempa” atau paling tidak, berisiko kecil ketika getaran gempa menerpa bangunan. Mungkin ini salah satu dari hikmah bencana yang baru saja berlalu.

Learning from today’s disasters for tomorrow hazards, belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman hari esok. Sesuai dengan kampanye reduksi bencana melalui United Nations-International Strategy for Disaster Reduction atau UN-ISDR yang digaungkan sejak Oktober 2004.

Saat ini, masyarakat mulai bergairah untuk menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Tempalah besi selagi panas, begitulah kata pepatah. Artinya, mumpung masyarakat sedang mood memperbaiki rumah dan lingkungannya harus kita dukung dengan informasi yang memadai.

Hal ini butuh kesiapan berbagai pihak untuk menyediakan pengetahuan, contoh dan strategi diseminasi tentang bangunan tanggap gempa. Apakah bangunan tanggap gempa itu? Bagaimana cara membangunnya? Berapa biaya yang dibutuhkan? Barangkali pertanyaan tersebut sekarang lagi populer di masyarakat.

Bangunan tanggap gempa merupakan sebuah bangunan yang dapat mengakomodasi gaya gempa yang terjadi, baik gaya vertikal, horizontal, maupun diagonal. Penulis sengaja tidak memberikan contoh- contoh bentuk atau model bangunan tanggap gempa karena khawatir hal ini akan malah menjadi kontraproduktif. Tawaran diskusi akan mengarah kepada prinsip-prinsip bangunan tahan gempa, selanjutnya bentuk dan eksekusi metoda membangun diserahkan kepada masyarakat.

Kita bisa belajar dari rumah-rumah tradisional di Nusantara. Dengan arif masyarakat tradisional memilih dan menggunakan bahan bangunan lokal, sistem struktur konstruksi yang tepat guna dan metode perawatan bangunan. Faktor terakhir inilah yang sering terabaikan sehingga banyak rumah tradisional tidak begitu tangguh dan andal menghadapi bencana seperti gempa bumi. Kita dikenal pandai membangun, tetapi miskin dalam budaya merawat bangunan.

Bangunan yang tanggap gempa cenderung berbentuk denah atau potongan sederhana, artinya condong menggunakan bentuk dasar, kotak, lingkaran, dan sebagainya. Kalaupun ada tambahan ruang, diusahakan terpisah atau merupakan kesatuan dengan bangunan induk. Proporsi bangunan, baik horizontal maupun vertikal juga dipertimbangkan seimbang. Dimensi bangunan yang cenderung besar dapat diperkecil dengan modul-modul yang berulang untuk menjaga kestabilan bangunan. Misalnya, modul ruang menggunakan ukuran 3 x 3 meteran, sehingga bangunan menyerupai kotak-kotak yang disusun.

Modul-modul ini akan berperilaku seragam ketika terkena gaya gempa, sehingga masing-masing modul serempak bergerak ke arah yang sama. Akibatnya, risiko bangunan rusak kecil karena tubrukan perilaku modul dapat diminimalkan.

Prinsip keseimbangan

Bangunan tahan gempa dapat menggunakan bahan bangunan yang bermacam- macam, sesuai bahan yang tersedia di sebuah wilayah. Penggunaan bahan bata, kayu, bambu, atau beton yang mempunyai andil yang sama untuk menciptakan bangunan tanggap gempa. Sekadar untuk panduan, penggunaan bahan disesuaikan dengan karakter bahan.

Prinsip tectonic of the frame and stereotomic of compressive mass dapat diterapkan. Artinya, bahan bangunan yang berkarakter berat cenderung diletakkan di bawah dan bahan bangunan yang bersifat ringan dapat diletakkan di atasnya. Ini adalah prinsip dasar keseimbangan. Penggunaan bahan yang ringan selain mengurangi beban bangunan juga ketika “terpaksa” roboh karena gempa tidak terlalu melukai penghuni atau pengguna bangunan.

Setelah bentuk bangunan dirancang, maka dibangunlah sebuah rumah tanggap gempa. Pastikan bahwa komponen-komponen bangunan lengkap. Kalau dianalogikan dengan manusia lengkap, maka sebuah bangunan harus mempunyai kaki, tubuh, dan kepala. Kaki bangunan adalah fondasi, tubuhnya ialah dinding, termasuk kolom, dan kepalanya merupakan atap (rangka dan penutup atap).

Hal yang krusial adalah tentang sambungan antarkomponen antara fondasi dengan kolom, kolom dengan atap, dan kesatuan antarkolom dengan sloof dan balok cincin (ring balk). Sambungan ini harus benar- benar terkait satu sama lain, untuk memastikan kesatuan bangunan, sehingga bila terjadi gempa dapat stabil. Kemudian sambungan antarelemen, baik menggunakan bahan kayu, bambu, beton atau mungkin baja, agar dipastikan sambungannya terkait erat dan kokoh.

Bentuk bangunan tanggap gempa bukanlah dogma yang harus sama dan seragam. Dengan memberdayakan bahan-bahan lokal, mengajak partisipasi masyarakat, serta adanya pendampingan terhadap teknik dan metode membangun diharapkan tercipta bangunan yang homy, lokal, dan tanggap gempa.

Metode learning by doing mungkin salah satu strategi yang baik untuk diterapkan saat ini untuk diseminasi bangunan tanggap gempa yang melibatkan peran serta masyarakat. Di satu sisi, masyarakat butuh rumah dengan segera, di sisi lain kita tidak ingin kehilangan momen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat memperbaiki lingkungan binaan mereka dengan aman dan berkelanjutan.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Selasa 11 Juli 2006)

Yulianto P Prihatmaji
Dosen Arsitektur Jurusan Arsitektur
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta

Robohnya Joglo Kami

arsitek(tur) tanggap bencana 115 Comments »

Kini lengkap sudah kekhawatiran pencinta tradisi dan penggiat warisan budaya, khususnya arsitektur, tentang keberadaan dan kelestarian bangunan tradisional Jawa. Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya telah meluluhlantakkan lingkungan binaan, termasuk warisan arsitektur tradisional Jawa.

Bangunan tradisional Jawa yang berbentuk panggangpe, limasan, kampung, joglo, dan tajug banyak yang tak berdaya menghadapi gempa yang kurang dari semenit.

Joglo, yang merupakan mahakarya arsitektur tradisional Jawa, pun banyak yang terjungkal kehilangan pamor-pesona kekuatan dan kestabilan bangunan kayu. Legenda bahwa bangunan joglo tahan gempa telah gugur.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin mahakarya joglo lunglai menghadapi gempa “yang hanya” berkekuatan 5,9 skala Richter. Tulisan ini mencoba meraba apa gerangan yang terjadi. Penelitian yang telah dilakukan penulis (2003) tentang perilaku bangunan tradisional Jawa terhadap gempa membuktikan bahwa joglo tahan goyangan sampai 6 bahkan 7 skala Richter, dengan metode eksperimen terskala di laboratorium.

Banyak faktor yang menyebabkan joglo tanggap gempa. Sengaja digunakan kata tanggap gempa bukan tahan gempa karena bangunan ini sepertinya dapat merespons dan berdialog dengan gaya gempa. Pertama, sistem struktur yang digunakan. Orang menganggap joglo berstruktur rangka karena memang terlihat batang-batang kayu yang disusun membentuk rangka.

Maclaine Pont (1923) dapat melihat lebih jernih bahwa struktur joglo menerapkan sistem tenda atau tarik. Hal ini didasarkan pada sistem dan sifat sambungan kayu yang digunakan (cathokan dan ekor burung), semuanya bersifat mengantisipasi gaya tarik. Tidak berhenti sekadar “fatwa”, Pont membuktikannya pada Gereja Poh Sarang Kediri yang menggunakan sistem struktur tarik dengan bahan baja. Sistem struktur tarik inilah yang membuat joglo bersifat fleksibel sehingga dapat tanggap terhadap gaya-gaya gempa.

Kedua, sistem distribusi beban. Bangunan joglo mempunyai soko guru (tiang utama) 4 buah dan 12 buah soko pengarak. Ruang yang tercipta dari keempat soko guru disebut rong-rongan, yang merupakan struktur inti joglo. Soko-soko guru disatukan oleh balok-balok (blandar-pengeret dan sunduk-kili) dan dihimpun-kakukan oleh susunan kayu yang berbentuk punden berundak terbalik di tepi (tumpangsari) dan berbentuk piramida di tengah (brunjung). Susunan kayu ini bersifat jepit dan menciptakan kekakuan sangat rigid. Soko-soko pengarak di peri-peri dipandang sebagai pendukung struktur inti.

Faktor ketiga adalah sistem tumpuan dan sistem sambungan. Sistem tumpuan bangunan joglo menggunakan umpak yang bersifat sendi. Hal ini untuk mengimbangi perilaku struktur atas yang bersifat jepit. Konfigurasi sendi di bawah dan jepit di atas inilah yang membuat joglo dapat bergoyang seirama dengan guncangan gempa. Sistem sambungannya yang tidak memakai paku, tetapi menggunakan sistem lidah alur, memungkinkan toleransi terhadap gaya-gaya yang bekerja pada batang-batang kayu. Toleransi ini menimbulkan friksi sehingga bangunan dapat akomodatif menerima gaya-gaya gempa.

Pemilihan dan penggunaan bahan bangunan adalah faktor keempat. Penggunaan kayu untuk dinding (gebyok) dan genteng tanah liat untuk atap disebabkan karena material ini bersifat ringan sehingga relatif tidak terlalu membebani bangunan. Pada awalnya penutup atap yang dipakai adalah jerami, daun kelapa, daun tebu, sirap, dan ilalang. Oleh karena merebak penyakit pes, pemerintah kolonial Belanda mengganti penutup atap dengan genteng supaya lebih sehat. Kualitas

Sekarang, walaupun tidak semua, bangunan joglo banyak yang rusak serius bahkan roboh akibat gempa. Mengapa hal ini dapat terjadi? Selain karena besarnya guncangan gempa, faktor kualitas bangunan menjadi penentu rusak tidaknya sebuah bangunan.

Hampir semua joglo yang rusak atau roboh beratapkan genteng tanah liat. Dalam keadaan normal, penutup atap menyumbang beban yang besar terhadap bangunan, apalagi ketika diguncang gempa. Apabila dianalogikan sebuah tubuh, kaki atau umpak dan tubuh atau soko guru tidak kuat menahan atap sebagai kepala bangunan. Ketika terjadi gempa masing-masing komponen bangunan (umpak, soko, dan atap) memiliki perilaku masing-masing dan kesatuannya hanya mengandalkan sambungan-sambungan di antaranya.

Renovasi sebagai respons terhadap kebutuhan dan keinginan pemilik bangunan juga memiliki andil yang besar terhadap kelemahan dan kelabilan joglo ketika gempa datang. Penggantian bahan dinding dari kayu menjadi tembok bata menimbulkan gaya desak ke komponen yang lebih lemah, tembok bata mendesak kayu sehingga bangunan menjadi labil.

Adanya mitos bangunan tradisional tahan gempa menjadikan pengetahuan faktual akan kelemahan struktur menjadi stagnan. Modifikasi bangunan tradisional karena tuntutan perkuatan atau perbaikan menjadi “bid’ah arsitektur” yang banyak dihindari oleh masyarakat. Mereka khawatir dianggap tidak sesuai pakem, merusak warisan budaya, atau mengkhianati tradisi. Justru dalam hal ini diperlukan modifikasi-modifikasi cerdas pada bangunan tradisional sebagai inovasi menghadapi keuzuran bangunan, berubahnya fungsi bangunan atau sekadar penyesuaian kebutuhan penghuni.

Hal terakhir, dan mungkin menjadi muara dari sebab kerusakan bangunan tradisional, adalah perawatan bangunan. Kita (mungkin) dikenal pandai membangun tetapi miskin dalam merawat bangunan, yang menjadikan rayap dan kelembaban menggerogoti kekuatan struktur bangunan.

Sekarang saatnya untuk bukan sekadar peduli, melainkan beraksi taktis dan berpikir strategis guna menyelamatkan warisan budaya. Mulai dari penyadaran pentingnya pusaka ini dilestarikan melalui pendidikan warisan budaya kepada masyarakat. Yang lebih penting lagi hentikan “evakuasi” joglo ke luar dari habitatnya dengan alasan apa pun. Bukankah bunga mawar akan terlihat lebih indah di pohon dibandingkan di pot atau vas bunga?

Walau kita berharap gempa lalu adalah yang terakhir, tetapi kita tidak dapat memastikannya. Yang dapat kita yakini adalah usaha kita untuk mengantisipasi ketika bencana datang.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, 23 Agustus 2006 hal. D)

Yulianto P Prihatmaji
Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

PERILAKU RUMAH TRADISIONAL JAWA “JOGLO” TERHADAP GEMPA

arsitek(tur) tanggap bencana 4 Comments »

Rumah tradisional Jawa terletak di daerah gempa III (gempa sedang), terhampar dari Banyuwangi sampai Cirebon. Rumah tradisional Jawa berwujud Joglo secara bentuk dan konstruksi dianggap sebagai master piece rumah tradisional Jawa, yang terkesan berat dengan struktur rong-rongan (umpak-soko guru-tumpang sari) sebagai penahan beban lateral.

Apabila terjadi gempa struktur kayu rong-rongan rumah Joglo dipandang sebagai struktur inti (core in frame) yang akan menahan gaya lateral, didukung oleh fleksibilitas, redaman, stabilitas, elastisitas, daktilitas, kehiperstatisan kayu dan konstruksi. Sistem tumpuan yang bersifat sendi dan atau rol, sistem sambungan lidah alur, konfigurasi soko-soko emper terhadap soko guru dan kekakuan soko guru oleh tumpang sari/brunjung dipandang sebagai kesatuan sistem earthquake responsive building.

Hasil pengujian model struktur rong-rongan terhadap getaran gaya gempa dengan horizontal slip table, menunjukkan bahwa sistem pembebanan yang diterapkan di rumah Joglo menyumbang kestabilan, pada gempa frekuensi tinggi dan akselerasi rendah-tinggi. Pada getaran gaya gempa berfrekuensi rendah dan akselerasi rendah-tinggi, sistem pembebanan membuat model lebih banyak mengalami deformasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, struktur rumah Joglo aman untuk daerah zona gempa 3 (apabila sistem tumpuan dibuat jepit).

Kata Kunci : struktur joglo, konstruksi rong-rongan, sistem sambungan dan tumpuan, gaya gempa.

(di amal jariyahkan melalui jurnal ilmiah Dimensi Teknik Arsitektur Petra Surabaya, Jul 2007 / Vol 35 / No 1, lihat http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/articles.php?PublishedID=ARS07350101)