sudah menjadi kebiasaan kyai jupri, begitu saya menyebut guru spiritual saya ini, melayat kepada siapa saja, dimana saja dan karena sebab apa saja kepada orang yang meninggal pada setiap jumat (surrounding jumat : kamis malam sampai jumat senja). siapa saja, tak pandang orok baru lahir atau renta tanpa daya. apapun keyakinannya, dengan gagah perkasa membela tuhan atau sekedar mengenal tuhan. dimana saja, asal masih dalam radius waktu jalan kaki setengah hari, karena yang setengahnya untuk pulang.

begitulah, sehabis jamah sholat subuh, kyai mengajak saya bertandang ke rumah duka seseorang di dusun tetangga. sebnarnya saya akan melayat siang-siangan nanti sekalian berangkat ke kampus, tapi tak kuasa saya menolak ajakan kyai yang karismatis ini.

sampailah kami di rumah duka. masih sepi, berkabut dan dingin. malam tadi sehabis hujan. tampak disana kesibukan orang mempersiapkan (prosesi) pemakaman, mulai dari menyapu halaman, menata kursi untuk pelayat, sampai meronce melati yang akan dikalungkan di keranda. setelah uluk salam dengan keluarga, maka kami mensholatkan jenazah. di baris depan kyai sebagai imam, disamping saya ada 4 orang makmum. usai sholat, kyai menghampiri ahli waris, mendoakan dan menghiburnya. kami berpamitan.

sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu kepada kyai ini. almarhum dalam pandangan saya termasuk abangan (jauh dari santri apalagi darah priyayi), tetap mengapa kyai begitu antusias bertakziah, seperti melayat pada mujahid saja. dan kelihatan sekali, kyai begitu menghormati almarhum dan keluarganya. saudara bukan kerabat juga tidak. pengamatan saya beliau jarang pergi ke masjid, kalaupun bertandang ke masjid karena ada pengajian akbar atau sekedar kerjabakti di awal puasa. selebihnya blas enggak pernah. suatu ketika ada undangan kenduri bada isya', dan pulang malam dengan membawa berkat. beliau berkata, "saya kira hanya kenduren je, nggak taunya ada pengajiannya to, tau gitu gak datang tadi".

almarhum berprofesi sebagai blandong atau tukang kayu (menebang, mengolah dan menjual dalam bentuk macam-macam bentuk olahan kayu). meninggalnya almarhum karena "ketlusuben" kayu. ada serpihan kayu yang menusuk betisnya. mulanya hanya gatal, begitu cerita kelaurganya. terus "mlenting' dan bernanah, dan akhirnya bengkak tak mampu berjalan. kata dokter, karena tetanus dan akut akibat terlambat ditangani.

kyai tahu, kegundahan hati saya. orang yang meninggal jumat, bukan kebetulan. sudah diatur oleh Dzat Pengatur Segala. dan yang meninggal pada hari jumat adalah tanda-tanda bila meninggalnya khusnul khotimah. beliau hanya berkata setengah berbisik, "karena almarhum bertasbih di sela-sela kapaknya".