saya baru tahu bahwa di sekolah ahsan & ni'mal itu, semua guru "haram" berkata jangan, dilarang dan tidak.

setelah tiga tahun sekolah disana, walaupun saya akrab dan intim dengan guru, kepala sekolah bahkan yayasan. dan saya (sedikit) tahu program pembelajaran yang diterapkan disekolah. saya (dikit) paham konsep pendidikan disana, tetapi untuk "jangan, dilarang dan tidak", meskipun bukan kosa yang aneh di telinga, menjadi istimewa disaat saya menyaksikan perkembangan aktivitas ahsan & ni'mal terkini.

anak seperti aliran air yang deras, kadang gemericik, acap ber-arus, sering bergelombang, bahkan ber-ombak atau bertsunami.

kita tidak boleh menghalangi, memperlambat bahkan memberhentikan, walau sesaat. karena yang sesaat itu akan memberangus kreatvitas dan enerji tumbuh (begitu, kata konsultan perkembangan anak).

yang bisa kita lakukan adalah, mengarahkan tanpa memperlambat. membelokkan tanpa memberhentikan. niscaya bila "mereka" terhenti, tak kuasa kita menahnnya, kini atau nanti.

bukanlah mereka laksana anak panah, kata kahlil jibran, dan kita ibarat busurnya. seberapa pegas busur kita, barangkali akan berpengaruh banyak pada kualitas mereka.

tapi seberapa sabar dan kreatifnya kita untuk tidak melakukan pe-larangan, pe-nidakan dan pen-janganan? sabar saja tak cukup untuk menghela kegiatan mereka, dibutuhkan kreativitas dan stamina untuk menggembalakan mereka, anak-anak masa depan.

dan perilaku guru dan ortu dan lingkungan harus seirama untuk menghidnari "jangan, dilarang & tidak", dan lebih dari itu dibutuhkan kebijaksanaan. saya kira ini yang terpenting.